Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 74 – Dia dan Pesta Tehnya 1 


[POV Lidi]

“Nona Lidiana, saya mengucapkan selamat atas pertunangan Anda.”

"Lalu, apa yang waktu itu adalah Yang Mulia Putra Mahkota?"

"Kalau dipikir-pikir, ada rumor seperti itu…"

“Ya, begitulah.”

Obrolan sepele dari para gadis yang berdandan dengan cantik.

Pikiranku lelah oleh dunia yang berbeda dari biasanya.

…Halo semuanya. Ini Lidiana, yang jumlah gelarnya meningkat secara tidak perlu karena menjadi Putri Mahkota Berikutnya.

Untuk saat ini, bisakah aku meneriakkan beberapa kata.

‘Biarkan aku pulang!! …Tidak, hm, ini adalah rumahku.

Pesta Teh dengan mengundang teman-temanku, para gadis… Hal yang disebut dengan bersosialisasi antar sesama gadis, tidak peduli seberapa dekat kita, ini benar-benar melelahkan.

***

Meski pun aku tidak suka bersosialisasi, tapi tentu saja aku tidak bisa lepas dari salonku yang terbuka untuk teman-temanku, para gadis.

Aku sangat menyadari bahwa memperluas lingkaran pertemananku, bahkan jika itu sedikit dan memperdalam hubungan adalah hal yang sangat penting sebagai seorang bangsawan.

Jadi, meskipun aku tidak berpartisipasi dalam Pesta Malam untuk menghindari Freed, selama ini salonku telah dibuka secara teratur. Aku tidak punya alasan untuk menghindari pertemuan khusus para gadis, terlebih Ayahku merekomendasikannya.

Bagaimanapun, panggung utama saat ini adalah salon dari seorang gadis dengan posisi teratas, yakni aku. Mungkin aku tampak lemah, mungkin aku tidak berpartisipasi dalam Pesta Malam, tapi orang-orang yang ingin berpartisipasi dalam salonku tidak terbatas.

Menginginkan undanganku, banyak gadis yang mengelilingiku ketika kadang-kadang aku muncul di Pesta-Pesta Malam. Meskipun ada banyak yang memfitnahku, ada banyak juga yang tampaknya ingin menjilat kepadaku.

Peran yang dituntut dariku adalah untuk membangun hubungan pribadi dengan para gadis berbakat dan membawa kembali informasi yang tidak dapat diperoleh pria.

Sulit untuk bersosialisasi ketika kamu harus berpura-pura ramah, tapi karena aku memahami peranku dan signifikansinya, aku membuka salonku seperti ini, dan rajin bersosialisasi.

Nah, hari ini aku mengadakan pertemuan di salonku, hanya para gadis yang cukup dekat denganku berkat jaringan keluarga kami yang ada di sini.

Ini adalah salon pertama yang aku adakan sejak aku bertunangan dengan Freed, kata-kata "Selamat!" dan tatapan percobaan telah diarahkan kepadaku sejak beberapa waktu yang lalu.

Mereka pasti ingin mendengar tentang Freed.

Aku mengerti kalau itu adalah hal yang paling mereka minati, tapi sebagai orang yang ditanyai, itu tak tertahankan. Aku terus-menerus berpura-pura tidak tahu.

Lelah dari percakapan yang membuatku tegang, aku menghela nafas tanpa suara dan tanpa alasan tertentu melihat koleksi lukisan kebanggaan Ayah yang menghiasi dinding.

Lokasi salon saat ini adalah ruang tamu di Kediaman Duke.

Tiga orang gadis sedang duduk mengelilingi meja bundar yang telah disiapkan. Dengan menghitung aku, totalnya ada empat orang. Kapasitas meja adalah enam orang.

Ada dua kursi kosong. Salah satunya adalah untuk teman dekatku, Marianne. Yang lainnya adalah untuk seorang gadis yang dia kenal dan akan dia bawa.

Ketika aku memberi Marianne undangan tertulis untuk mengunjungiku, dia berkata kalau dia ingin membawa seorang gadis lainnya dengan segala cara. Ini salon pertamaku sejak pertunangan. Dalam persiapan untuk mendengar berbagai macam hal, aku berpikir untuk mengundang orang-orang yang sudah dipilih dengan cermat.

Itu sebabnya aku berpikir untuk menolaknya sebagai hal yang sudah pasti, tapi ketika Marianne memohon untuk mengundangnya tidak peduli apapun itu, akhirnya aku pun setujui.

Aku berhutang budi padanya atas Pesta Topeng. Aku harus berterima kasih padanya, entah bagaimana.

Marianne bilang dia akan menjemput gadis yang ingin dia perkenalkan hari ini.             

Tidak ada masalah karena sebelumnya aku mendengar kalau mereka akan sedikit terlambat.

Saat aku mengambil secangkir teh hitam dan meminumnya, seorang pelayan yang menunggu di samping menerima pesan.

“Nona, Putri dari Count Vetra telah tiba.”

“Aku mengerti, terima kasih.”

Aku meletakkan kembali cangkir teh ini dan berbicara kepada para gadis yang sedang menikmati percakapan mereka.

“Sepertinya Marianne telah datang. Dia menantikan untuk memperkenalkan teman barunya kepada kita hari ini.”

“Nona Marianne? Saya belum pernah mendengar siapa pendampingnya…”

Mendengar kata-kataku, seorang gadis yang sedang menikmati camilan dan teh –Putri dari Viscount Cavani mengangkat wajahnya dengan mata berbinar.

Dia adalah seorang gadis yang 1 tahun lebih tua dariku. Dia adalah orang yang mengkhawatir tentang sosoknya yang agak bulat, aku baru dekat dengannya baru-baru ini. Namanya Tiris.

Kecintaannya pada manisan sudah dipastikan. Dia meminta untuk mencicipi produk baruku dan dia juga memperkenalkan aku ke toko-toko populer. Bahkan sekarang, dia menikmati apa yang telah disajikan bersama dengan teh dengan paniknya.

Sepertinya dia sangat menyukai mereka.

Di sebelah Tiris ada Putri dari Count Lambert yang memiringkan kepalanya dengan rasa ingin tahu.

Dia sudah bertunangan, dan akan menjadi seorang perempuan yang sudah menikah bulan depan, aku mengenalnya bersama dengan adik perempuannya di Pesta Malam yang jarang aku hadiri beberapa tahun yang lalu.

Kami berbagi hobi minum teh, dengan satu atau dua cara, kami menjadi dekat sejak saat itu.

Kediamannya memiliki area yang memproduksi daun teh hitam berkualitas tinggi, setiap kali ada teh baru dia mengirimkannya kepadaku terlebih dahulu.

Teh hari ini –teh apel ini juga merupakan hadiah darinya. Ini sempurna untuk musim ini. Rasa manisnya yang lembut tak tertahankan.

Gadis itu, Cecilia, menyipitkan mata emeraldnya dan bergumam,

“Saya juga tidak. Itu hanya sesuatu yang saya dengar, tapi…”

“Kakak, Nona Marianne tidak akan pernah membawa orang yang tidak berpikir.”

Gadis yang tertawa di sebelahnya adalah adik perempuannya, Siris. Dia mencintai kakak perempuannya dan selalu mengikutinya ke mana-mana. Ini adalah sebuah rahasia bahwa dia sedikit khawatir tentang apa yang akan terjadi setelah kakak perempuannya menikah.

Aku sedikit mengangguk ketika mendengar mereka berbicara.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku hanya merasa sedikit tertekan, bertanya-tanya apakah aku akan ditanyai berbagai pertanyaan lagi.”

Aku berkata jujur, tapi tanpa banyak keseriusan.

Cecilia tertawa senang.

“Ya, itu tidak bisa dihindari. Nona Marianne sangat menantikan kisah pertunangan Nona Lidiana. Bukankah dia sudah sangat gembira pada saat pengumuman resmi?”

“Lagi pula memang seperti itu…”

Bahkan ketika aku berkonsultasi dengannya tentang Pesta, Marianne merasa senang dengan pertunanganku.

Saat itu kami lebih banyak berbicara tentang Pesta, jadi aku tidak langsung ditanyai tentang Freed, tapi aku gelisah tentang apa yang akan dia tanyakan hari ini.

Perempuan adalah ras yang bisa bertanya tentang keadaan rumit orang lain, entah bagaimana caranya.

Terutama cerita tentang ‘malam’ adalah makanan favorit mereka. Tidak peduli di dunia mana pun itu, perempuan selalu suka bergosip dan berbicara tentang cinta.

Karena aku selalu menghindari topik itu, kini tidak ada yang bersikeras lagi tapi aku bisa mengatakan kalau suasananya menunjukkan bahwa mereka gatal untuk mendengar tentang ini dan itu perihal Freed.

Ngomong-ngomong, untuk pakaian hari ini, aku sengaja memilih gaun berleher tinggi.

Desas-desus mungkin telah menyebar, tapi aku tidak cukup berani untuk menunjukkannya dengan sengaja memakai gaun yang memamerkan 'Bunga Raja'.

“Selamat siang, Nona Lidiana. Saya benar-benar minta maaf karena terlambat.”

Dengan dipandu oleh seorang pelayan, Marianne datang. Dia peka terhadap fashion seperti biasanya, dia memakai gaun off-white yang baru dirancang. Aku mengonfirmasi bahwa ada seorang gadis yang tidak dikenal di sebelahnya. Lalu, aku menyapa mereka.

“Selamat siang, Marianne. Tidak masalah karena aku sudah mendapat kabar darimu sebelumnya. Aku ingin tahu siapa gadis di sampingmu yang ingin kamu perkenalkan?”

"Ya, itu benar. Dia adalah Nona Miriallia. Nona Miriallia, tolong sambut Nona Lidiana.”

Diperkenalkan oleh Marianne, gadis itu maju selangkah dan membungkuk dengan cantik.

“Saya senang bertemu dengan Anda, Nona Lidiana. Terima kasih atas undangannya pada kesempatan ini. Saya adalah Putri tertua dari mantan Marquis Lowe, Miriallia.”

Melihatnya menyapaku dengan senyuman, aku buru-buru mencarinya di ingatanku.

Miriallia von Lowe.

Putri tertua dari mantan Marquis Lowe. Baru-baru ini kakak laki-lakinya sudah mewarisi gelar Marquis.

Tentunya, kakak lelakinya itu adalah pemimpin dari Ordo Ksatria Primera, konon dia berperan aktif dalam pertempuran melawan Tarim.

Adapun dirinya (Miriallia), namanya selalu muncul sebagai kandidat calon tunangan Freed.

Sampai baru-baru ini, aku sudah melihat daftar kandidat calon tunangan itu dan berpikir kalau akan baik-baik saja jika Freed menikahi kandidat mana pun, jadi aku tidak yakin akan hal itu.

Saat aku mengerti orang seperti apa yang datang, aku menyambut Miriallia dengan senyuman.

“Aku Lidiana. Selamat datang, Nona Miriallia. Aku dengar, kakak laki-lakimu berhasil mewarisi gelar beberapa waktu lalu. Tentu saja, kakak laki-lakimu juga seorang pemimpin Ordo Ksatria Primera. Dalam pertempuran baru-baru ini melawan Tarim, aku sudah mendengarnya dari Ayahku bahwa dia mendapat pencapaian atas dirinya sendiri.”

Saat aku mengatakan itu dengan mudahnya, Miriallia menatapku dengan wajah terkejut.

“Jadi, Anda tahu tentang Kakak saya. Dengan segala hormat, Nona Lidiana jarang muncul di Pesta Malam, jadi saya pikir Anda tidak akan tahu.”

Kata-kata itu, aku mengerti. Dia juga terjatuh ke dalam desas-desus tentangku kalau aku adalah seorang gadis yang lemah dan terlindung yang tidak tahu apa-apa.

Aku harus segera menghilangkan rumor itu, tapi sebagai Putri dari Keluarga Bangsawan yang terkemuka, aku harus menanggapinya dengan sikap tegas.

Aku menunjukkan senyum berseri-seri dan bertanya padanya.

“Memang benar aku belum terlalu sering ke Pesta Malam, oleh karena itu wajar saja Nona Miriallia berpikir begitu. Meski begitu, pencapaian kakak laki-lakimu telah menjadi cerita yang terkenal. Apa sangat aneh kalau aku mengetahuinya?”

“…Tidak, itu merupakan suatu kehormatan. Saya yakin kakak saya akan senang.”

“Marquis? Tidak perlu berlebihan. Ayo, silakan duduk agar kita tidak berbicara sambil berdiri. Aku akan membuat teh.”

Dengan semua orang duduk dan teh baru disiapkan, akhirnya Pesta Teh dimulai.

Dengan penampilan yang tenang, Miriallia mengobrol dengan Marianne yang ada di sebelahnya.

Diam-diam aku mengamatinya sambil minum teh.

Berkemauan keras, fitur yang tajam, rambut biru tua yang diatur secara modis.

Dia terasa seperti perempuan bangsawan kuno, tipe yang langka di antara teman-temanku.

Sebaliknya kalau aku harus mengatakannya, dia lebih seperti tipe orang yang akan melecehkanku.

Aku tidak mengerti apa tujuannya dengan ingin diperkenalkan oleh Marianne kepadaku, dalam pikiranku, aku memiringkan kepala. Kemudian, Marianne mengarahkan suaranya padaku.

“Nona Lidiana, Nona Miriallia juga salah satu kandidat untuk calon Putri Mahkota. Kali ini saya sudah melakukan hal yang tidak masuk akal karena Nona Miriallia memohon dengan segala cara karena dia ingin memiliki kesempatan untuk mengucapkan beberapa kata secara langsung kepada Anda, Nona Lidiana.”

"Emm…"

Tiris yang menanggapi kata-kata itu.

Dia menatap Miriallia lekat-lekat, dengan penuh minat.

Miriallia tampak malu menerima tatapannya, tapi dia tetap saja tersenyum.

“Saya menjadi kandidat calon tunangan untuk Putra Mahkota merupakan hal di masa lalu. Sekarang saya hanya berdoa untuk kebahagiaan Putra Mahkota. Nona Lidiana, selamat atas pertunangan Anda. Tolong berbahagialah dengan Putra Mahkota.”

"…Terima kasih."

Aku tahu dia telah menjadi kandidat calon Putri Mahkota tanpa perlu diberitahu.

Tapi, kenapa dia datang ke sini untuk mengucapkan selamat kepada orang yang bukan kenalannya?

Aku tidak bisa membayangkannya, hanya untuk itu saja?

Sambil merasa curiga dengan apa yang dia pikirkan, aku menatapnya.

“…?”

Kenapa, ya? Untuk sesaat, aku merasa matanya seperti memiliki kilatan tajam… Aku ingin tahu apakah itu hanya imajinasiku saja?

Merasa seperti sedang diawasi, aku menatapnya lagi, tapi kali ini Miriallia hanya memiliki senyum lembut di wajahnya.


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?