Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 75 – Dia dan Pesta Tehnya 2 


[POV Lidi]

Saat aku masih kebingungan dengan perasaan yang seperti sedang diawasi, Miriallia menjatuhkan bom sambil tersenyum.

“Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada Nona Lidiana. Saya telah mendengar dari Ayah saya bahwa Yang Mulia Putra Mahkota jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi… Di mana Anda bertemu Yang Mulia Putra Mahkota?”

“Eh…”

"Ugh!!"

Dengan anggun, Marianne menutupi mulutnya saat mendengar kata-kata itu. Ah, matanya berbinar.

Sedangkan aku, aku mati-matian menahan diri untuk tidak menyemburkan teh.

Tunggu sebentar. Dari mana dia mendengar hal itu.

“…Nona Miriallia. …Maaf, tapi aku ingin tahu dari mana mantan Marquis Lowe mendengar hal itu?”

Aku ingin tahu sumber rumor itu, jadi aku menyelidikinya dengan hati-hati, tapi jawabannya datang dengan terlalu mudah.

“Ayah saya mendengarnya dari Yang Mulia Raja.”

"…Aku mengerti."

…Tidak mungkin. Dari orang yang ada di puncak negara ini? Tentu saja, itu tidak terduga.

“Yang lebih penting lagi, Nona Lidiana! Tolong beritahu kami tentang pertemuan Anda dengan Yang Mulia Putra Mahkota. Saya ingin mendengarnya.”

‘Yang lebih penting lagi’, apanya!

Dengan tatapan semua orang tertuju padaku karena pernyataan Marianne, bahuku turun.

Tidak ada jalan keluar.

…Ya, aku tahu. Aku siap untuk rentetan pertanyaan hari ini.

Seharusnya akulah tuan rumah dari acara ini, lalu kenapa aku merasa kalau aku adalah korban di sini.

Mana mungkin aku mengatakan kalau kita bertemu saat Pesta Topeng, itulah yang kupikirkan.

“…Setelah pertunangan kami diputuskan, Yang Mulia Putra Mahkota datang ke Kediaman untuk menemuiku. Di saat itulah, aku mendapatkan lamaran pernikahan secara resmi.”

Aku masih ingat saat orang-orang di sekitarku membeku dan aku tidak punya pilihan lain selain menerima pertunangan.

Aku benar-benar bingung saat tiba-tiba saja dia berlutut di depanku pada pertemuan pertama kami.

Sebenarnya, itu bukanlah pertemuan pertama kami, dia adalah pasanganku saat aku melakukan hubungan se*s pada malam hari sebelumnya.

Anggap saja pertemuan pertama kita terjadi di Kediaman ini. ‘Aku harus mencocokkan cerita dengan Freed nanti’, memikirkannya membuatku menghela napas di dalam hati.

Mendengar cerita itu, Kakak-Adik Lambert meletakkan tangan mereka di pipi mereka dan menghela nafas panjang.

“Cinta pada pandangan pertama, itu terdengar seperti sebuah cerita. Saya juga mendengar bahwa Yang Mulia Putra Mahkota sangat tergila-gila dengan Nona Lidiana. Saya juga ingin dicintai oleh seorang pria baik yang luar biasa.”

“Kakak, kalau itu adalah Nona Lidiana, saya bisa memahaminya. Kami, anggota 'Asosiasi Penyorak' merasa sangat gembira.”

Dua gadis yang bermimpi…

Sayangnya, Freed bukanlah Pangeran yang patut untuk di idamkan.

Aku akan mengatakannya sebanyak yang diperlukan, dia hanyalah Putra Mahkota berperut hitam yang tiada bandingnya.

Kurasa mereka pasti akan kecewa kalau mereka tahu kenyataannya, aku mengerutkan kening saat mendengar kata 'Asosiasi Penyorak'.

'Asosiasi Penyorak'… Dengan tulus, aku mengira kalau itu adalah lelucon yang dibuat Marianne, tapi tampaknya asosiasi itu benar-benar ada.

Dan, mereka adalah anggotanya.

Aku menundukkan kepalaku dengan putus asa, lalu Miriallia bertanya dengan rasa ingin tahu.

“'Asosiasi Penyorak'? Apa itu?”

“Itu adalah asosiasi untuk mendukung cinta Yang Mulia Putra Mahkota dan Nona Lidiana! Ah, kita harus mengubah namanya menjadi 'Asosiasi Penyorak Pasangan Mahkota' mulai sekarang.”

Dengan bangga Marianne menjelaskannya sebagai jawaban atas pertanyaan Miriallia.

Aku tidak melewatkan kedutan di wajah Miriallia untuk sesaat.

…Ya, tidak mengherankan. Itu adalah reaksi yang normal.

“…Bukankah sudah cukup bagi kita untuk membicarakan hal itu? Apa tidak ada cerita menarik lainnya?”

“Cerita… Menarik? Kalau begitu…”

Aku ingin terhindar dari topik pembicaraan itu, jadi aku mengubah topik, kemudian Cecilia berbicara seolah-olah dia mengingat sesuatu.

“Ini adalah cerita yang saya dengar dari tunangan saya… Apakah Anda mengetahui rumor tentang penyanyi unik yang baru-baru ini muncul?”

"Penyanyi?"

“Benar, ini adalah cerita dari sekitar setengah bulan yang lalu, kebetulan Marquis Muller mendengar sebuah nyanyian dari bar yang dia lewati di Kota, dan beliau sangat menyukainya, jadi beliau mengundangnya ke Kediamannya. Sepertinya lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang belum pernah beliau dengar sebelumnya.”

Semua orang memperhatikan cerita Cecilia.

Berbicara tentang Marquis Muller, dia adalah orang yang terkenal karena dia suka Pesta Malam. Tidak terlalu aneh, bahkan kalau aku mendengar Marquis Muller mencari penyanyi di Kota untuk membuatnya bernyanyi di Pesta Malam.

‘Kalau dipikir-pikir…’, Saat aku sedang berpikir dalam hati, Miriallia mulai berbicara.

“Saya juga mendengarnya dari Kakak saya, katanya Marquis Muller akan membawa penyanyi itu sebagai hiburan untuk Pesta Malam berikutnya di Istana Kerajaan. Mungkin kita bisa bertemu dengannya di sana.”

Begitu… Marquis Muller ingin membual.

Dia ingin menarik perhatian dengan membawa penyanyi yang menarik minat semua orang. Proses berpikirnya sepele untuk dipahami.

Menurut cerita Miriallia, sebagai sesama Marquis, Keluarga Lowe dan Keluarga Muller tampaknya memiliki hubungan yang relatif dekat.

Aku yakin karena kedekatan keluargalah yang membuat Miriallia mengetahui hal itu.

Namun, lagu macam apa yang belum pernah didengar itu? Apakah itu lagu yang diturunkan dari suatu suku tertentu? Aku sedikit penasaran.

Mungkin aku akan mengetahuinya kalau aku bertanya pada Kakak, tapi entah bagaimana, aku menantikan Pesta Malam berikutnya.

“Saya menantikan hal itu. Saya tidak sabar menunggu Pesta Malam berikutnya.”

Marianne memulainya dengan semangat tinggi.

Kemudian, dia menatapku, dan bertanya dengan sedikit cemas.

“Nona Lidiana akan menghadiri Pesta Malam berikutnya, kan. Apa kondisi fisik Anda baik-baik saja?”

“Eh… Ya, terima kasih atas perhatiannya. Akhir-akhir ini kondisiku baik-baik saja, jadi aku berniat untuk hadir.”

Aku merasa menyesal karena sudah membohongi Marianne dengan berpikir kalau aku memiliki fisik yang lemah.

Kalau sudah seperti ini, mari kita alihkan informasi tentangku bahwa aku menjadi sehat secara bertahap.

Karena sudah diekspos ke Freed dan Ayah bahwa aku sehat, aku tidak akan diizinkan untuk absen dari Pesta Malam lagi. Lagi pula, itu juga tidak ada artinya lagi.

Kalau aku menunjukkan bahwa aku sangat sehat, itu akan menjadi tidak natural. Kalau tidak, maka pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan selalu muncul. Misalnya pertanyaan seperti, ‘Apakah aku bisa melahirkan ahli waris dengan tubuhku yang lemah ini?’

Mendengar jawabanku, Marianne tersenyum bahagia.

“Ya ampun, akhirnya saya akan melihat Yang Mulia Putra Mahkota dan Nona Lidiana bersama. Karena saya tidak dapat berpartisipasi dalam Pesta Perayaan Kemenangan, saya sangat menantikannya!”

“Aku tidak berpikir akan ada sesuatu yang menarik untuk dilihat.”

Saat aku bergumam, diam-diam Miriallia berkata, “Saya berpartisipasi dalam Pesta itu.”

Sebagai anggota keluarga Marquis Lowe, dia memiliki kualifikasi untuk berpartisipasi. Tidak ada yang aneh dengan keberadaannya di tempat itu.

“Tampaknya hari ini Nona Lidiana menyembunyikannya, tapi di dada Nona Lidiana ada 'Bunga Raja' yang luar biasa. Saya tidak pernah membayangkan bahwa Nona Lidiana sudah diberikan 'Bunga Raja'. Semua orang mengatakan bahwa Yang Mulia Putra Mahkota sangat mencintai Nona Lidiana.”

“…!!”

Itu terungkap!!

Tentu saja aku membicarakan tentang 'Bunga Raja' yang terlihat di Pesta pada waktu itu.

Karena aku tidak ingin menceritakan tentang hal itu, jadi secara khusus aku memakai gaun berleher tinggi, tapi dengan ini semuanya menjadi hancur.

Para wanita muda yang diberi umpan terbaik, mereka semua menatapku. Mata mereka bersinar seperti mata binatang yang kelaparan. Menakutkan!!

"Saya juga pernah mendengar rumor itu!"

Sambil mengangkat tangannya, Siris bergabung.

“Nona Lidiana memakai gaun berleher tinggi hari ini, jadi saya bertanya-tanya tentang kebenarannya! Ternyata rumor itu benar!”

“Ya, itu adalah mawar biru yang indah.”

Aku menyadari bahwa Miriallia mengatakannya dengan penuh kebencian.

Ada apa dengan anak ini? Apa dia datang untuk menggangguku?

Kupikir kami akan berhasil menyelesaikan Pesta Teh ini tanpa masalah, tapi apa yang dia lakukan??

“Nona Lidiana! Tolong beri tahu kami cerita itu secara detail!!”

…Mata Marianne berbinar.

Aku pun tersadar.

Saat Marianne seperti ini, dia tidak akan pernah berhenti.

Aku menghela napas pasrah. Sudah tidak mungkin untuk melarikan diri lagi.

Saat itulah aku mengerti bagaimana perasaan selebriti yang diwawancarai di tempat saat dikelilingi oleh wartawan.

***

"Nona Lidiana, apakah Anda punya waktu sebentar?"

Aku pergi ke Aula Depan untuk mengantar para gadis ini, tapi kemudian Miriallia memanggilku.

Pesta Teh, yang berubah menjadi rentetan pertanyaan setelahnya, entah bagaimana berakhir tanpa insiden.

Bagaimanapun, Marianne sungguh luar biasa.

Untuk mengorek informasi yang ingin dia dengar, dia memegang diriku di telapak tangannya, akhirnya dia membuatku mengungkapkan berbagai hal, membuatku berada dalam keadaan hampir mati.

Meski begitu, Miriallia terus mengajukan pertanyaan yang membangkitkan minat Marianne. Aku kehabisan akal melawan ‘permainan gabungan’ mereka.

…Untuk beberapa waktu, aku tidak ingin mengadakan Pesta Teh lagi.

Saat semua gadis sudah naik kereta kuda untuk pulang, hanya Miriallia yang tersisa.

Aku pikir dia akan pulang bersama dengan Marianne, tapi sepertinya itu akan berbeda.

“Entah bagaimana, atau mungkin…”

Saat aku memiringkan kepalaku, tidak mengerti kenapa dia memilih untuk menanyakan sesuatu di saat-saat seperti ini, setelah terlihat ragu untuk beberapa saat, dia berbicara dengan penuh tekad.

Matanya terlihat sangat serius.

“Apakah Nona Lidiana… Mencintai Yang Mulia Putra Mahkota?”

“Eh…?”

Aku menjadi kehilangan kata-kata saat dia langsung ke intinya.

Melihat wajahnya, akhirnya aku tersadar.

Alasan kenapa dia menggunakan tindakan tegas seperti ini untuk menemuiku meskipun faktanya kita tidak pernah berinteraksi sebelumnya.

Dia menyukai Freed.

Dia sangat serius dengan itu.

Setelah selama ini aku mengamati para wanita yang berkerumun di sekeliling Freed hanya karena status dan penampilannya, aku mengerti.

Kilatan tegas di matanya membuatnya terlihat sangat bersungguh-sungguh.

Melihatnya yang menatapku lekat-lekat, aku mengendurkan tubuhku.

Jika dia benar-benar menyukai Freed, maka tidak sopan bagiku untuk membohonginya.

Aku harus menghadapinya dengan serius tanpa berbohong.

Berpikir seperti itu, sekali lagi aku menghadapinya.

“…Aku memiliki kesan yang baik tentang Yang Mulia Putra Mahkota. Sejauh itu benar. Tapi, jika ditanya ‘Apakah aku mencintainya?’, aku masih belum bisa menjawabnya dengan yakin.”

“…Eh?”

Diberitahu terus terang tentang perasaanku saat ini, mata Miriallia terbuka lebar.

"Anda tidak… Mencintai… Yang Mulia Putra Mahkota?"

“Aku tidak menganggapnya seperti itu, tapi semuanya terjadi terlalu tiba-tiba untukku. Aku akan menghadapi Yang Mulia Putra Mahkota tanpa terburu-buru mulai sekarang.”

Aku memikirkan tentang Freed dengan baik. Namun, saat aku, dengan jujur ​​mengatakan kepada Miriallia bahwa aku membutuhkan lebih banyak waktu, Miriallia menatapku dengan mata yang seperti melihat sesuatu yang tidak dapat dipercaya.

“Bahkan setelah diberi ‘Bunga Raja’…? Apakah saya… Terlalu…”

"Nona Miriallia?"

Melihat keadaan Miriallia yang aneh, aku mencoba mendekat, tapi dia tiba-tiba mundur dan membungkuk. Aku punya kalau saat ini tinjunya yang terkepal dengan erat sedang gemetar.

Bertanya-tanya ada apa, aku mencoba mendekat, tapi Miriallia dia berbicara untuk menolakku.

“…Permisi, Nona Lidiana. Hanya itu saja. Terima kasih untuk hari ini.”

“Eh, iya.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi padanya yang berbicara seolah menahan emosinya.

Dia berbalik dan naik kereta kuda dalam diam, saat aku melihatnya pergi, dia menengok ke belakang sekali, di matanya ada emosi yang kuat, yang tampak seperti kemarahan, diarahkan padaku.

Aku tidak tahu kenapa dia begitu marah.

Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah kecemburuan, tapi aku merasa bahwa itu sedikit berbeda.

"Aku tidak benar-benar membencinya… Aku ingin tahu apakah aku menyinggung perasaannya?"

Apakah itu buruk untuk berbicara jujur??

Tapi, aku tidak ingin membohongi seorang anak yang benar-benar memiliki perasaan pada Freed.

Itu sebabnya, aku tidak menyesalinya.

“…Lagi pula, aku bertanya-tanya apakah sudah takdirku untuk dibenci oleh wanita muda seperti ini.”

Aku pun kembali ke kamarku dengan bahuku yang turun, merasa murung.


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?