Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 75.5 – Duka Putri Marquis 2 


[POV Miriallia]

“Bagaimana kabar Anda, Nona Miriallia?”

Saat Putra Mahkota dan tunangannya meninggalkan tempat pesta, suasana Pesta Perayaan Kemenangan berubah menjadi damai.

Tepat pada saat itulah aku dipanggil, saat aku melihat dari balik bahuku, ada seorang perempuan yang berdiri di sana.

Seorang perempuan muda yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia memakai gaun biru yang menonjolkan garis tubuhnya.

Ramping tapi memiliki dada yang montok dan pinggang yang sempit. Itu adalah sosok yang diidamkan perempuan mana pun.

Perempuan itu tersenyum dengan menawan dan berkata kepadaku,

"Saya ingin tahu apakah kita bisa bicara sebentar?"

Sikapnya sangat meyakinkan bahwa dia tidak akan ditolak.

"Saya tidak mengenal Anda."

Disapa dengan begitu akrab oleh seseorang yang baru pertama kali aku temui –terlebih oleh seorang perempuan yang nama keluarga dan gelar bangsawannya tidak kukenal, itu tidak masuk akal.

Aku mengalihkan pandanganku dengan berpikir bahwa bergaul dengannya hanya akan membuang-buang waktu.

Tapi, dia sama sekali tidak terpengaruh oleh sikapku.

“Tidak akan rugi bagi saya untuk berbicara dengan Anda. Saya tidak begitu menyukai Putri dari Duke Vivouare. Tampaknya Anda juga sama. Benar, bukan? Jadi, saya berpikir bahwa kita bisa berteman.”

“…Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.”

Perempuan ini berkata seperti itu, itu berarti dia melihatku yang menjadi gila karena cemburu.

Setelah menyadari itu, aku merasa ingin melarikan diri.

Aku mencoba menipunya, tapi dia bisa menghindarinya dengan mudah.

“Berhenti berbohong. Anda harus mengerti. Ya, Anda dan saya itu sama. Perempuan itu adalah penghalang. Tidakkah Anda berpikir begitu?”

"Hal seperti itu! Saya tidak berpikir seperti itu!"

Secara tidak sengaja suaraku menjadi kasar.

Itu benar, aku tidak berpikir bahwa dia (Lidi) adalah penghalang.

Jika Putra Mahkota memilihnya, maka itu saja. Aku tidak memiliki kualifikasi untuk mengatakan apa pun.

Itu sebabnya aku menggelengkan kepala untuk mengatakan bahwa itu berbeda.

“Saya bertanya-tanya, kalau tidak ada perempuan itu, mungkinkah Anda yang akan terpilih sebagai Putri Mahkota? Saya ingin tahu apakah Anda tidak merasa jengkel karena berpikir begitu?”

"…Itu–"

Bohong jika aku tidak memikirkannya sedikit pun. Karena itu, untuk sesaat tanggapanku tertunda.

Saat ini, perempuan ini menghujaniku dengan berbagai pertanyaan hanya dalam satu tarikan napas.

"Hei, alasan saya dan Anda itu berbeda, tapi meski begitu kita berdua sama-sama tidak menginginkan keberadaan perempuan itu. Saya tidak akan menyakitinya secara khusus. Saya hanya ingin balas dendam dengan membuatnya sedikit ketakutan. Hei, tidakkah menurut Anda kita bisa bekerja sama dengan berbagai cara?”

"Bekerja sama…"

Merasakan hawa dingin yang aneh dari kata-katanya, tanpa sadar aku bertanya balik.

Perempuan itu tertawa, “Fufufu.” Dengan senyum yang memikat.

“Saya tidak bermaksud meminta sesuatu yang sangat sulit. Percayalah.”

"Saya belum mengatakan sepatah kata pun tentang bekerja sama… Terlebih, jika Putra Mahkota baik-baik saja dengannya, saya akan mengikutinya."

Meskipun dalam diriku, aku merasa ragu-ragu, entah bagaimana aku berhasil mengatakan itu.

Perempuan itu tertawa seolah dia sudah mengantisipasi hal itu.

“Benarkah? Ya, baiklah. Seandainya pendapat Anda berubah, hubungi saya. Jika Anda membungkusnya di sekitar cabang pohon di rumah Anda, saya akan segera tahu. Saya tunggu kabar dari Anda.”

Dia mengeluarkan sesuatu seperti kain gelap dari dadanya dan menyerahkannya padaku.

Merasa tidak nyaman, aku mencoba untuk langsung mengembalikannya, tapi wanita itu tidak menerimanya.

“…Saya tidak butuh sesuatu seperti ini.”

“Tidak apa-apa, simpan saja. Anda pasti akan menggunakannya.”

"Tapi…"

“Jika Anda tidak membutuhkannya, tidak apa-apa untuk tidak menggunakannya, bukan? Tentu saja itu keputusan Anda, saya tidak bermaksud memaksa.”

Bagaimanapun, Andalah yang akan memutuskan.

Wanita itu menunjuk ke dadaku, dan dengan mudahnya berkata seperti dan pergi.

“Ah, nama…”

“Jika Anda menghubungi saya, saya akan memberi tahu Anda pada saat itu. Kalau begitu, Nona Miriallia, selamat tinggal.”

Kali ini tanpa menghentikan langkahnya, perempuan itu menghilang ke dalam kerumunan.

Aku tercengang dengan mulut ternganga.

"Bukan tempatku untuk mengatakan apa pun…"

Meski begitu, sebenarnya penampilan tunangan Putra Mahkota barusan membebani pikiranku.

Ada perbedaan tingkat antusiasme antara dia dan Putra Mahkota.

Bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Putra Mahkota.

Aku ingin tahu kebenarannya. Kebenaran yang cukup untuk membuatku menyerah pada Putra Mahkota―――

Dengan memegang kain yang diberikan kepadaku secara paksa, hanya itulah yang aku harapkan.

***

Aku ingin bertemu dengannya dan mengonfirmasi hal-hal secara langsung, apa pun yang terjadi.

Perasaan itu membengkak dengan tak terkendali dalam diriku, jadi dengan sungguh-sungguh aku meminta putri bangsawan yang dekat dengannya untuk mengizinkanku menemaninya ke salon yang diselenggarakan oleh putri Duke, dan berhasil.

Hari saat salon itu diselenggarakan.

Putri Duke yang bertemu denganku adalah seorang perempuan cantik yang bermartabat seperti yang kulihat saat Pesta Perayaan Kemenangan.

Terlepas dari sopan santunnya, aku memendam keraguan tentang pengetahuannya, tapi sebelum aku bisa menjelaskan tentang keluargaku, dengan mudahnya dia membicarakan tentang Kakakku.

Tampaknya dia bukanlah seorang perempuan sederhana yang terlindungi.

"Apakah sangat aneh bagiku untuk mengetahuinya?"

Ekspresinya saat dia bertanya itu terlihat provokatif, aku sama sekali tidak bisa melihatnya sebagai seorang perempuan yang lemah.

Aku tidak peduli apa yang dia pikirkan tentangku. Berpikir seperti itu, untuk melihat bagaimana dia akan bereaksi, aku mengangkat topik yang ingin dia hindari dengan sengaja.

Sejak saat itu, pembicaraan beralih ke mendapatkan informasi darinya dengan Putra Mahkota sebagai fokusnya, tapi di tengah jalan aku menyesal bertanya padanya.

Itu karena sikapnya yang benar-benar terlihat malu saat dia berbicara tentang ini dan itu mengenai Putra Mahkota.

Karena lebih dari cukup bagiku untuk mengerti bahwa Putra Mahkota mencintainya, itu saja sudah cukup untukku.

Aku tidak bisa terus memikirkan Putra Mahkota dan menganggap perempuan ini sebagai penghalang.

Tapi, bagaimana dengannya? Aku ingin tahu apakah dia memikirkan Putra Mahkota dengan benar?

Perilakunya yang meragukan di Pesta Perayaan Kemenangan menggangguku, aku ingin tahu tentang itu apa pun yang terjadi.

Dan kemudian, dengan melihatnya, tunangan Putra Mahkota yang sebenarnya, aku diyakinkan pada saat Pesta Teh berakhir.

Keduanya saling mencintai dengan baik. Maka itu sudah cukup bagiku.

Sesakit apapun itu, aku berdoa untuk kebahagiaan orang yang aku cintai.

Dalam perjalanan untuk pulang, kebetulan kami hanya berdua. Jadi untuk memastikan, aku benar-benar ingin bertanya untuk terakhir kalinya.

Apakah Anda mencintai Putra Mahkota? –Tentu saja aku mencintainya, aku berharap dia akan menjawab seperti itu.

Kemudian, selama aku mendengar jawaban itu, aku akan menahan perasaanku dan kemudian menikah sesuai instruksi Ayahku, itulah yang aku pikirkan.

Tapi, perempuan ini…

“Aku masih belum bisa menjawabnya dengan yakin.”

Hal konyol macam apa yang dia katakan ini.

Dia bilang apa? Itulah yang ada di pikiranku. Dia berbicara dengan penuh kasih tentang Putra Mahkota.

Dia berbicara tentang Putra Mahkota dengan wajah seperti itu, tapi dengan mulut yang sama, dia memberitahuku bahwa dia tidak mencintainya.

…Jangan main-main denganku!

Dari dasar perutku, amarahku membuncah.

Dia sangat dicintai oleh Putra Mahkota. Dia sudah diberikan 'Bunga Raja' yang sangat kuinginkan.

Meski begitu. Ingin lebih banyak waktu? Jangan beri aku omong kosong seperti itu.

Meskipun dia mencintai Putra Mahkota, dia bahkan tidak mengerti, aku tidak bisa memaafkannya.

Jangan mengolok-olokku!

Aku berpikir begitu secara refleks.

Dengan mudahnya dia menghancurkan perasaanku.

Meski begitu, dia mengatakan hal yang setengah hati, tapi dia begitu dicintai.

Hanya ada satu hal yang aku inginkan.

Aku hanya ingin dia mengatakan bahwa dia mencintai Putra Mahkota.

Aku hanya ingin dia menunjukkan bahwa tidak ada celah dalam perasaannya untuk aku masuki.

Kalau tidak, aku tidak akan pernah bisa melupakan Putra Mahkota, tidak peduli berapa lama waktu berlalu.

Maaf karena memiliki emosi yang menyakitkan.

Aku tidak bisa melihat wajahnya, aku pun naik ke kereta kuda dengan langkah cepat.

Dengan lembut, Iblis berbisik kepadaku.

–––Kalau begitu, seharusnya dia merasa ketakutan.

Dalam hal ini, tidak peduli seberapa tebal mukanya, dia akan menyadari arah perasaannya sendiri.

Kalau aku tidak melakukan hal ini, perempuan itu pasti tidak akan menyadari perasaannya.

Itu adalah ide yang menakutkan, tapi bagiku yang saat ini, itu tampak seperti metode terbaik.

Dengan tangan gemetar, diam-diam aku mengeluarkan kain gelap dari dadaku.

Pada akhirnya aku tidak bisa membuangnya dan terus menyimpannya selama ini. Aku membuka bungkusnya dan memperhatikannya dengan seksama.

Meskipun aku sedikit kesal karena berpikir bahwa ternyata semua ini terjadi persis seperti yang dikatakan wanita itu, bahwa aku pasti akan menggunakannya, gumamku.

“…Baiklah, aku akan bekerja sama.”

Dia harus mengalami sesuatu yang sedikit menakutkan dan kemudian dihibur oleh Putra Mahkota.

Kemudian dengan cepat berpegangan padanya dan pamerkan keadaan bahagiamu.

Jika itu terjadi, aku merasa kalau aku bisa mengakhiri cinta pertamaku yang sia-sia.

Jika itu demi alasan ini, aku bisa menyeberangi jembatan yang agak berbahaya.

Meskipun aku berpikir begitu, bagaimanapun juga, aku merasakan penolakan untuk bergabung dengan seseorang yang tidak aku kenal.

Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan… Tidak, perempuan itu berkata bahwa dia tidak bermaksud menyakiti.

Dengan begitu, seharusnya ini akan baik-baik saja.

“…Haa.”

Perlahan aku menarik napas dalam-dalam.

…Seharusnya aku menyelesaikannya sendiri, tapi bagaimana pun caranya, kecemasan di dadaku tidak akan hilang.


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?