Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 71 – Dia dan Etika 


[POV Lidi]

“Yo, Lidi. Hari itu, bagaimana caramu kembali?”

Beberapa hari telah berlalu sejak aku melarikan diri dari Freed.

Setelah makan malam, Kakak mengunjungi kamarku dan menanyakan hal itu.

Ngomong-ngomong, kali ini aku melaporkan masalah ini ke Ayah dan Ibu dengan hati-hati.

Aku memperoleh persetujuan Freed. Saat aku memberi tahu mereka kalau aku mengirim surat pada Freed bahwa aku sudah pulang ke rumah, aku dibebaskan dengan mudah.

Kupikir, aku akan lebih diceramahi lagi, jadi itu cukup antiklimaks.

Tampaknya aku sudah dibebaskan dari pengurungan.

Mengingat kejadian sebelumnya, aku merasa lega.

“Bagaimana, kamu bertanya… Ya, dengan cara biasa?”

Saat aku berpikir kalau akhirnya aku bisa bersantai, Kakak mengunjungiku.

Jauh di lubuk hatiku, aku berbicara dengan gugup.

Jika tidak merasa malu, aku bisa menghadapi pertanyaan itu dengan tenang. Tapi dalam kasusku, ini terlalu memalukan.

Meskipun aku tidak bisa menjawab dengan jujur ​​dan mencoba bersikap ambigu, Kakak terus memperhatikanku.

“Hmph. Di sana, ada jaring keamanan itu. Tidak ada yang melihatmu meninggalkan ruangan, apa artinya?”

“…Rahasia dagang. Bukankah itu akan bocor ke Freed kalau aku memberi tahu Kakak. Aku tidak akan mengatakan hal-hal yang akan merugikanku di masa depan.”

Saat aku mengatakan itu, kepalaku dipukul.

…Itu menyakitkan.

“Aku tidak akan memberitahunya. Sebaliknya, aku sangat terkejut. Orang itu berusaha keras mengatur jaring keamanan. Aku tidak akan pernah menyangka kamu bisa melarikan diri.”

“Ya, itu luar biasa…”

Sambil memegang kepalaku yang dipukul olehnya, aku mengangguk.

Saat Cain membawaku keluar, sekilas aku melihat keamanan yang ketat, aku pun berkeringat dingin.

Saat aku menyetujui ucapannya, Kakak mendesah keheranan, tapi kekuatan yang terpancar di matanya tidak berubah.

"Aku tahu itu. Tidakkah kamu ingin memberitahuku bagaimana kamu melarikan diri?"

“Seperti yang kukatakan, itu rahasia dagang. Aku tidak akan mengungkapkannya. Tapi, aku benar-benar tidak menggunakan Badan Intelijen Keluarga kita.”

Memprediksi kekhawatiran Kakak, aku berkata hanya untuk memastikan.

Kalau aku menggunakan Badan Intelijen Keluarga Duke, mungkin aku bisa melarikan diri.

Kupikir Kakak merasa khawatir aku melakukan hal itu, jadi aku menyangkalnya.

Tanpa berusaha menyembunyikan ekspresinya yang takjub, Kakak menatap wajahku.

“Bodoh. Aku tidak khawatir tentang itu. Lagi pula, sejak awal kamu tidak akan bisa membuat Badan Intelijen kita bergerak. Mereka hanya mendengarkan perintahku dan perintah Pak Tua.”

“Ah, ya, kamu benar. Maaf."

Kakak pergi selama setahun karena alasan itu.

Kendali langsung atas Badan Intelijen Keluarga Duke. Tidak mungkin orang dari Badan Intelijen yang telah lama mengabdi pada Keluarga Duke akan menerima perintah dari siapa pun selain Tuan mereka.

“…Itulah alasan kenapa aku memikirkan bagaimana caramu melarikan diri. Kamu tidak menggunakan Badan Intelijen kita. Tapi tidak ada yang melihat pintu terbuka. Pintunya memiliki keamanan 24/7. Kamu tidak bisa lewat tanpa terlihat.”

“…”

Jadi dia memikirkannya sejauh itu. Tidak peduli apapun itu, kupikir aku tidak akan bisa melarikan diri melalui pintu.

Kalau itu hanya kekuatanku sendiri, aku hanya bisa melarikan diri melalui jendela, tapi kamar Freed ada di lantai 3. Dengan kemampuanku, tentu saja itu adalah hal yang sulit.

Lagi pula, tampaknya mustahil bagiku untuk menang tanpa Cain.

Saat aku tenggelam dalam keheningan, dengan lembut Kakak menyipitkan matanya.

Tindakannya itu sama seperti Ayah, jadi secara refleks, aku terdiam membeku.

“…Kamu, kamu tidak terlibat dalam hal-hal aneh, kan?”

“Eh? Tidak, tidak. Mana mungkin.”

Saat Kakak bertanya dengan serius, aku menggelengkan kepala.

Aku hanya meminta ninja-ku, Cain untuk membawaku keluar.

Aku tidak melakukan sesuatu yang aneh.

Setelah aku menggelengkan kepalaku, Kakak menatap wajahku lekat-lekat, dan memberitahuku untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya, lalu sekali lagi, dia memukul kepalaku.

Aura gugup beberapa saat yang lalu pun menghilang dalam sekejap.

“Ya, menurutku sangat menakjubkan kamu bisa lolos dari Freed. Itu bukti bahwa kamu memiliki kekuatan untuk melarikan diri saat terpojok. Kalau kamu menjadi Putri Mahkota, siapa yang tahu siapa saja orang yang mungkin mengincarmu. Kupikir itu baik bagimu untuk memiliki satu atau dua cara untuk melawan. Seperti yang diharapkan dari adik perempuanku.”

"Kakak…"

Kemudian, Kakak mengacak-acak rambutku.

Ketika aku melihat wajah Kakak, dia tertawa dengan penuh rasa ketertarikan.

“Freed juga terkejut. Dia tidak menyangka kamu bisa melarikan diri. Sepertinya dia akan tetap diam sampai Pesta Malam berikutnya, jadi kamu bisa bersantai.”

“Setelah semuanya, itu hanya sampai Pesta Malam. Baiklah, aku mengerti.”

Itu adalah hal yang sudah aku duga, jadi aku mengangguk.

Terlepas dari obsesinya denganku, Freed menepati janjinya dan membiarkanku pergi.

Dan saat aku berada di sini, mau bagaimana lagi, aku akan sedikit mengendalikan diri, aku memiliki pikiran yang aneh.

“Hei, Freed itu orang yang seperti apa?”

Di benakku, ada pertanyaan seperti apa dia itu. Jadi aku mencoba bertanya pada Kakak.

Kakak yang sudah berjalan pergi kini berbalik dan samar-samar mengucapkan, "Ah."

"…Baiklah, mari kita lihat. Kalau aku harus mengatakannya, saat ini kamu memiliki pria bermasalah yang jatuh cinta padamu."

“Eh? Apa maksudmu?”

“Kamu berhasil menipu dan kabur darinya, itu membuatnya jatuh cinta lagi padamu. Dia tersenyum dengan wajah yang luar biasa.”

"…Aku mengerti."

Aku bertanya-tanya mengapa, sangat sulit untuk mengomentari cerita itu. Dan wajah tersenyum itu, aku yakin dia tersenyum dengan senyum berhati hitam.

Tulang punggungku sampai menggigil, dan aku memeluk tubuhku.

Untuk beberapa alasan, Kakak menatapku yang sedang memeluk tubuhku sendiri dengan senyum tipis.

“Mungkin lain kali, kalau kamu ketahuan kabur, kamu tidak akan bisa kembali ke rumah. Baiklah, semoga berhasil.”

Ucapan semangat yang tidak datang dengan tulus dari hati itu membuatku kesal.

“Ugh… Bertingkah seakan ini adalah masalah orang lain.”

“Ya, itu memang masalah orang lain. Maaf karena sudah mengganggu percintaan orang lain?”

“Kakak menyebalkan! Kalau kamu memiliki waktu luang untuk menertawakan orang lain, bawalah pengantinmu ke sini.”

Saat aku merengut padanya, Kakak mengangkat bahunya sambil menyeringai.

“Ups, giliranku tiba. Aku tidak bisa menang denganmu kalau membahas topik itu. Singkatnya, yang ingin aku katakan adalah, sungguh menakjubkan kamu memenangkan taruhan melawan Freed.”

“…Mengingat hal itu, bukankah percakapan ini terlalu berlebihan?”

T/N: Maksudnya, klo cmn mau ngucapin selamat, ngapain Alex sampe ngomong panjang lebar gini.

Dia benar-benar hanya ingin menggodaku. Secara perlahan aku memintanya untuk mengerti, tapi Kakak malah sama sekali tidak peduli.

Dia benar-benar berani untuk bersikap tidak tahu malu.

“Ini adalah percakapan antara saudara kandung yang menghangatkan hati. Tidak lama lagi kamu akan menjadi anggota Keluarga Kerajaan, kurasa kita nantinya kita akan memiliki sedikit kesempatan untuk berbicara seperti ini, jadi meski sedikit, cobalah untuk berkomunikasi dengan Kakakmu ini.”

"Mencurigakan. Wajahmu tersenyum."

Aku bisa memastikan. Tidak mungkin Kakak memiliki pemikiran yang begitu mengagumkan.

T/N: Ini Lidi lg nyindir ya, guys.

“Haha. Ketahuan, ya. Aku hanya datang ke sini untuk menggodamu.”

“…Kakak sialan, pergilah ke neraka!”

“…Aw!”

Mendengarnya mengucapkan kata-kata yang sudah kuduga, aku pun mendorong Kakak dengan siku, dengan seluruh kekuatanku.

***

Setelah mengusir Kakak, aku dipanggil oleh Ayah. Sesuai perintah, aku menuju ke ruang kerjanya, tapi sekarang setelah pembicaraan berakhir dan aku kembali ke kamar, aku benar-benar terkejut.

Meskipun aku sudah menyuruh pelayanku untuk membawakanku teh, aku tetap tidak bisa memaksakan diri untuk meminumnya.

Alasan keterkejutanku.

Itu sangat sederhana. Baru saja Ayah mengajariku tentang 'Etika Pria dan Wanita'.

'Etika Pria dan Wanita' yang berlaku di kalangan kelas atas (bangsawan) negara ini.

Itu adalah hal yang sangat mengejutkanku.

'Etika Pria dan Wanita' yang pernah kudengar di suatu tempat sebelumnya, tampaknya menjadi pemahaman umum dalam bersosialisasi dan hubungan sek**al yang diwariskan kepada Putra dan Putri kelas atas (bangsawan) dari generasi ke generasi.

Ini pertama kalinya aku mendengarnya, tapi yang mengejutkanku adalah isinya.

Aku cukup terkejut dengan ‘kebiasaan’ dalam bersosialisasi. Tapi pada akhirnya, yang paling membuatku terkejut adalah tentang se*s.

Perempuan menyerahkan segalanya kepada lelaki dan tidak melakukan hal yang tidak perlu. Terbaring diam seakan sudah mati, bisa dibilang seperti itu.

Aku terkejut dengan 'keanggunan' dan 'rasa malu' yang dituntut untuk dimiliki para perempuan bangsawan. Tampaknya menunjukkan ‘keaktifan’ dan sejenisnya dianggap sebagai hal yang tidak sopan.

Oi, oi, apakah ini nyata?! Apa yang harus kulakukan?!

Aku sendiri tidak bisa mempercayai telingaku saat aku mendengar tentang ‘metode pemasukan’.

Wajar kalau aku terkejut karena satu-satunya yang diberitahu adalah posisi misionaris.

Aku nyaris tidak bisa berpura-pura tenang di depan Ayah, tapi badai hebat berkecamuk di dalam pikiranku.

Tentu saja.

Di dunia ini, aku hanya ‘mengalaminya’ dengan Freed, tapi… Aku tidak ingat kalau kami pernah berhubungan se*s seperti itu, sekali pun tidak.

Karena aku setengah tercengang saat Ayah memberi tahu semuanya, dia menyimpulkan cerita dengan mengatakan, “Kurasa aku tidak perlu menjelaskannya karena ini sudah terlambat.”

Itu sama sekali bukan urusannya.

Kemudian, aku tersadar.

Selama ini Ayah sengaja diam tentang hal itu.

Ayah menyembunyikan informasi yang seharusnya aku pelajari sejak awal.

Kalau aku mempertimbangkan niat Ayah yang sebenarnya untuk menyembunyikan pengetahuan yang setidaknya harus kupahami sebelum aku debut di pergaulan kelas atas.

Itu adalah tindakan pencegahan agar aku tidak berhubungan dengan lelaki…’

Dengan kata lain, seperti itulah yang terjadi.

Sejak awal, Ayah mengerti kalau ada kemungkinan bagiku untuk mengambil tindakan radikal karena tidak ingin menikah dengan Freed, jadi dia sengaja tidak mengajariku tentang hal itu.

Pastinya, tidak peduli sesempurna apa pun etikanya, tidak ada gunanya jika bagian terpentingnya tiada.

Tidak ada orang yang akan mengejar perempuan yang tidak memiliki sopan santun.

Ayah mengungguliku dalam hal ini.

T/N: Intinya, mau sesopan apapun Lidi, ga akan ada cowok yg deketin Lidi krn Lidi ga ngelakuin ‘etika pria dan wanita’. Sblm Lidi ngelakuin ‘tindakan radikal’ biar ga nikah sm Freed, Bpknya udh lbh dlu ngelakuin tindakan pencegah dgn ga ngajarin ttg ‘etika pria dan wanita’ biar ga da cowok yg deketin Lidi.

“Aku ditipu…”

Sambil menggertakkan gigi di kamarku, akhirnya aku mengangkat cangkir teh.

Ini menjadi sedikit dingin, tapi mau bagaimana lagi.

Aku meminum teh favoritku untuk menenangkan hati.

Baru-baru ini aku kecanduan teh melati. Sebuah rasa yang dengan lembut menyebar di hatiku yang mengeras.

“…Fiuh”

Aku meletakkan cangkir teh dan menghembuskan nafas.

Sepertinya aku sudah berhasil menenangkan diri.

Aku terkejut dengan omongan Ayah, tapi bagaimanapun, yang lebih aku khawatirkan adalah perilaku Freed.

Mengingat 'Etika Pria dan Wanita' yang sudah kudengar, maka sikapku di pesta topeng sangatlah aneh.

Meski begitu, kenapa Freed, yang bisa memilih dan membawa wanita mana pun untuk tidur dengannya malah memilihku yang tidak bersikap sopan, itulah yang ada di pikiranku.

Aku tidak terlalu memperhatikan itu karena aku hanya bertujuan untuk cinta semalam, tapi sekarang, setelah kupikir-pikir, seharusnya itu tidak mungkin.

Terlebih, sikap Freed.

Sejak awal, saat Pesta Topeng, do**y style dan co**irl style adalah posisi yang biasa kami lakukan.

Bahkan pada malam terakhir kita bersama, ada hal-hal seperti posisi duduk bertatap muka… Yah, ada banyak macamnya.

Tentu saja, Freed tidak boleh mengabaikan 'Etika Pria dan Wanita'.

Memikirkan kembali hal itu, tentu kata-kata dan tindakannya mencerminkan hal itu di setiap kesempatan. Setiap kali aku menanyakan tentang sikapnya yang aneh, dia selalu menghindarinya dengan berkata, “Tidak apa-apa kalau kamu tidak mengetahuinya.”

"Aku hanya diam, tidak menyadari apa pun…"

Itu benar. Freed mengatakan kalau reaksiku tidak biasa.

Aku ingat dia selalu tersenyum bahagia setiap kali aku bereaksi.

Mau tak mau, aku merasa kalau obsesinya padaku disebabkan oleh hal itu.

Lain kali kita bertemu, pasti aku akan bertanya padanya tentang ini.

Tapi.

“Di sisi lain, beralih ke se*s yang membosankan itu sedikit…”

Aku marah karena dia memanfaatkan kurangnya pengetahuanku, dia melakukan apa yang dia suka, tapi itu bukan berarti berhubungan se*s dengannya tidak menyenangkan.

Itulah kenapa aku tidak bisa menyalahkannya tentang se*s yang bertentangan dengan sopan santun pada umumnya. Sama sepertinya, menurutku (se*s) seperti itu lebih baik.

Aku hanya punya satu keluhan tentang se*s dengannya.

Jumlah ‘ronde’ yang tinggi. Begitulah aku menyimpulkannya.

Biasanya, dalam semalam kami melakukannya sebanyak 2 digit. Terkadang lebih banyak dari itu.

Kurasa, dengan senang hati aku akan melakukannya paling banyak 3 kali, tapi sayangnya tidak ada harapan untuk itu menjadi kenyataan.

Apa yang menakutkan adalah, aku belum pernah melihat ‘benda itu’ layu.

Aku benci membayangkan apa yang diperlukan untuk membuatnya sangat puas.

Ya, kesampingkan soal berapa ‘ronde’, lagi pula sekarang aku suka bercinta dengannya.

Aku hanya ingin sedikit mengeluh.

Karena itu, saat ini aku suka se*s dengan Freed dan tidak ingin mengubahnya, tapi itu terlalu memalukan untuk dikatakan.

“…Aku ingin tahu apakah aku harus tetap diam tentang ini…”

Aku tidak dapat menyangkal bahwa aku merasa jengkel karena tidak diberi tahu apa-apa, tapi dengan ini aku bisa lepas dari rasa malu karena aku tidak harus mengatakan padanya bahwa aku suka se*s yang menyimpang dari sopan santun.

Jelas aku merasa ada manfaat tersendiri baginya, tapi demi diriku sendiri, aku memutuskan untuk tetap diam dan membiarkan segala sesuatu sebagaimana adanya.


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?