Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 60 - Tindak Lanjut Kakak 2


[POV Alex]

"Oi, tenangkan dirimu."

Menemani teman masa kecilku yang patah hati, aku pergi ke kamar pria ini di markas Divisi Penyihir.

Setelah memperingatkan penyihir lain untuk tidak mendekat apapun yang terjadi dan memasuki ruangan, Will duduk di kursi dalam diam.

“Pasti sangat mengejutkan. Yah, wajar jika sesuatu seperti itu dipamerkan.”

Saat kepalanya menunduk karena kesal, aku menepuk bahu Will dan melihat ke arah jam.

Masih ada beberapa jam lagi sampai pesta perayaan kemenangan. Sampai saat itu, Will perlu sedikit pulih.

Tapi… Apakah ini benar?

"…Tidak mungkin."

Secara spontan aku melihat ke langit.

Kenyataannya, Will sangatlah tertekan.

Tetap saja, itu adalah tugasnya untuk berpartisipasi dalam pesta perayaan kemenangan sebagai Komandan Divisi Penyihir.

Orang ini harus berpartisipasi meskipun itu tidak mungkin, tetapi aku tidak dapat mengatakan bahwa saat ini dia sedang dalam keadaan pikiran yang normal.

Bagaimanapun juga…

Sejujurnya aku terkejut adikku sampai tidak memperhatikan Will.

Di matanya hanya ada Freed seorang.

Meskipun begitu, seharusnya dia tidak memamerkannya seperti itu.

Will benar-benar rusak sekarang.

Tanpa sadar, aku membiarkan adikku memberi Will pukulan terakhir begitu saja.

“…Haa”

“…Aku juga tahu.”

"Will?"

Dengan cemas aku terus menepuk-nepuk Will untuk menenangkannya, dengan kepala masih menunduk, dia mulai menumpahkan kata-kata sedikit demi sedikit.

"Aku pergi ke medan perang dengan Putra Mahkota dan memiliki kesempatan untuk berbicara... Putra Mahkota memikirkan Lidi dengan serius, aku mengerti kalau tidak ada lagi celah untukku."

Kata-kata Will mengingatkanku bahwa mereka (Freed dan Will) telah bersama selama sebulan. Kupikir.

Menghabiskan waktu seperti itu bersama-sama, tentunya mereka punya banyak kesempatan untuk mengobrol.

“Putra Mahkota memikirkan Lidi dengan sungguh-sungguh. Pasti Lidi akan bahagia. Dalam hal ini, aku berpikir untuk mendukung keduanya. Bahkan jika saat ini aku merasakan rasa sakit, suatu hari aku ingin menjaga mereka dengan perasaan lembut. Tapi… Itu sama saja dengan aku Cuma mengubur perasaanku… Aku menyadari hal yang tidak menyenangkan itu beberapa waktu lalu.”

"Will…"

Tinjunya terkepal sampai pucat. Giginya membuat suara gerinda.

“Kenapa harus Lidi yang dicintai oleh Putra Mahkota… Siapa pun tidak menjadi masalah. Siapa pun yang menjadi pasangan Putra Mahkota, aku akan mendukungnya, tapi… Kenapa harus Lidi?”

Aku tidak bisa membalas apa pun. Tentunya tidak peduli apa yang kukatakan, Will tidak akan baik-baik saja.

“Di dunia ini ada begitu banyak wanita. Bahkan gadis dengan status keluarga yang sesuai untuk Putra Mahkota pun ada banyak, bahkan lamaran pernikahan pun datang bahkan dari luar negeri. Kenapa tidak dari mereka saja!? Kenapa harus Lidi yang terpilih!!?”

"Will... Meski begitu, kau mengerti kalau sekarang Lidi adalah tunangan Freed, bukan?"

Apa yang dikatakan Will barusan adalah kebenaran.

Tapi, meski jumlahnya banyak, pada akhirnya calon tunangan Freed selalu saja… Adikku.

Posisinya sebagai calon tunangan Freed nomor 1 tidak pernah terguncang.

Artinya, kecuali sesuatu yang besar terjadi, sejak awal Lidi Lay yang akan menikahi Freed tanpa gagal. Hanya saja… Bahkan tanpa ‘hal itu’, cepat atau lambat mereka akan bertemu. Dan saat mereka bertemu…

T/N : hal itu = Freed sama Lidi yang bertemu di Pesta Topeng.

"Aku mengerti itu! Tapi, Putra Mahkota… Bahkan Lidi!! Bukankah mereka begitu membencinya (pertunangan)!! Itulah kenapa pernikahan mereka tidak akan terjadi! Itulah yang kupikirkan. Tapi…!"

Bertentangan dengan suara Will yang dinaikkan, aku mempertahankan nada tenang.

“Bahkan jika itu adalah pernikahan antar keluarga. Keinginan mereka tidak akan menjadi masalah, orang tualah yang memutuskannya.”

"Tapi! Seharusnya mereka mencoba menghindarinya!"

Masih tidak ingin mengakuinya, Will dengan marah menggelengkan kepalanya.

Tanpa sadar aku tersenyum pahit pada Will yang bertingkah seperti anak manja ini.

“Tepat sekali. Meski begitu, mau bagaimana pun, mereka bertemu secara kebetulan. Mereka bertemu, Freed jatuh cinta kepada Lidi, dan mereka akan segera menikah… Pada akhirnya Lidi menerimanya.”

Itulah kenyataannya.

"Tapi…"

Karena Will masih mencoba mengatakan sesuatu, aku menjadi merasa tidak enak, tetapi aku akan memberikan pukulan terakhir.

Ada 'Bunga Raja'. Tidak peduli apa yang dia katakan, adikku tidak akan pernah menjadi milik Will.

Selain itu, perasaan adikku sudah dipastikan.

Bahkan jika Will membencinya, dirinya sendiri sudah melihat seperti apa mereka (Lidi dan Freed) beberapa waktu yang lalu.

“Kamu mengerti, kan? Lidi masih belum menyadarinya, tapi dia mencintai Freed. Ketidakpekaannya membuatku ingin tertawa.”

“……”

"Meskipun kau memahami perasaan Lidi untuk Freed, kau tetap tidak akan menyerah?"

Will terdiam saat mendengar pertanyaanku, tapi akhirnya dia menarik napas panjang.

“…Tidak mungkin. Aku tidak berbohong saat aku bilang untuk memberi mereka restu, tapi… Aku tidak bisa menyerah padanya. Aku yakin, aku akan selalu mencintainya.”

“Aku bisa melihatnya. Kau benar-benar pria yang keras kepala.”

Aku tertawa saat mendengar jawaban Will.

Meski begitu… Tetap saja, aku tahu bahwa itu tidak bagus. Aku bisa melihat kesedihan di wajahnya.

Ah… Astaga! Kenapa semua teman masa kecilku itu merepotkan!?

Karena kesal, aku mengulurkan jariku.

“Aku mengerti. Will! Kalau begitu, teruslah cintai Lidi.”

“Alex? Apa…”

Will menatapku, mempertanyakan apa yang aku katakan.

Tapi aku serius. Karena hanya itu cara yang tersisa.

"Kau tidak bisa menyerah pada Lidi apapun yang terjadi. Benar, kan? Lalu, teruslah seperti itu sampai akhir. Itu juga salah satu jalan."

"Tetapi aku…"

Maaf, tapi aku sedikit kesal karena Will menundukkan kepalanya lagi.

Aku tidak sengaja mendecakkan lidahku.

“Kau benar-benar bimbang, Will. Jawab dengan jelas sekarang! Bisakah kau menyerah pada Lidi? Bagaimana dengan itu?”

"Tidak mungkin!"

Saat aku menanyakannya, dia langsung menjawabnya dengan nada tegas.

Lihat! Mau bagaimana pun, akhirnya tetap seperti itu.

"Benarkan? Kalau begitu, kau tidak punya pilihan selain tetap mencintainya, bukan? Bahkan ketika dia menikah, bahkan ketika dia melahirkan seorang anak! Saat-saat di mana situasi itu datang, kau tidak akan punya pilihan lain. Kau hanya bisa menyerah pada Lidi. Hari itu pasti akan datang."

Diberitahu begitu, Will menggelengkan kepalanya dengan wajah bingung.

“Aku tidak tahu kapan hari itu akan datang.”

“Bukankah itu bagus. Kau terlalu berpikir untuk menyerah. Kalau begitu, menghadaplah ke depan. Itu akan jauh lebih baik kalau kau terus mencintainya.”

"…Apakah itu baik?"

Aku mengangguk, mau bagaimana lagi… Dengan malu-malu, Will mencuri-curi pandang ke arahku.

“Pria itu (Freed) tidak akan memberitahumu sesuatu seperti dia membencimu karena sudah jatuh cinta pada Lidi… Jadi, dirimu sendirilah yang akan merasa tidak enak. Sampai kau bisa melupakannya, tidak masalah untuk terus mencintainya. Bagaimanapun, Lidi tidak menyadarinya, bahkan sikap Freed kepadamu tidak berubah.”

…Mungkin.

Saat berkaitan dengan Lidi, aku tidak bisa mengatakan dengan pasti karena –anehnya Freed selalu berpikiran sempit tentang Lidi.

Meski begitu, Freed tidak memperlakukan Will dengan tidak adil. Freed memang orang yang seperti itu. Aku mempercayainya, seperti aku mempercayai Will, terlebih lagi aku memiliki opini yang tinggi tentangnya. Tidak peduli apa, Freed adalah penguasa masa depan negeri ini.

“Putra Mahkota tidak akan melakukan itu. Aku yakin.”

Benar saja, Will keberatan dengan kata-kataku, bukan? Kalau begitu…

“…Tidak masalah. Cintailah Lidi sampai semuanya tenang.”

“Dan jika tidak?”

‘Semuanya akan baik-baik saja’, kataku pada Will yang cemas.

“Tidak apa-apa, kau sudah mencintainya sejak lama. Kurasa kau memiliki selera tertentu untuk wanita, itu hal yang wajar. Lakukan saja apa yang kau inginkan. Apapun keputusanmu, aku tidak akan melarangnya.”

“Alex…”

Mendengar kata-kataku, akhirnya ketegangan meninggalkan pundak Will.

Dia tersenyum canggung.

“…Pada akhirnya, tidak ada jalan selain mencintai Lidi.”

"Bodoh. Kamu itu… Sudah terlambat kau mengatakan hal itu."

Diberitahu begitu, Will tertawa pasrah.

Dilihat dari ekspresinya, tampaknya kalut di pikirannya sudah sedikit menghilang, aku lega dengan keputusan yang dia ambil.

Sejak awal… Aku sudah mengetahuinya.

Tidak mungkin pria ini bisa dengan mudah menyerah pada adikku.

Itu sebabnya, aku pikir tidak apa-apa baginya untuk terus melakukannya sampai akhir yang pahit.

“…Tentu saja, ini sudah larut. Tepat sekali. Tidak ada pilihan lain untukku. Maka tidak ada yang lain selain terus tegar dan tetap mencintainya.”

“Meski begitu, fakta bahwa kau diberi bahu yang dingin (tidak dipedulikan) tetap tidak berubah.”

“Alex!”

Saat aku bercanda, dia malah memarahiku.

Aku membalasnya dengan mengangkat bahuku pada Will.

Aku mengulangi kata-kata indah yang sama.

“Lagipula, itulah kebenarannya. Mulai sekarang pasti akan menyakitkan. Aku juga baru menyadari, kalau saat ini cinta mereka hanya bisa dilihat sebagai hubungan yang saling menguntungkan bagi publik. Namun, saat Lidi menyadari perasaannya, tidak masalah bagiku untuk melihat kebersamaan mereka setiap hari? Kuyakin kau akan segera melihat hal itu… Will, apa kau siap untuk itu?”

“…Alex.”

Fakta adalah fakta. Saat aku mengatakan itu padanya dengan sengaja, mata Will diwarnai oleh amarah.

Tapi, aku tidak peduli. Sekali lagi aku mengatakan apa yang kupikirkan.

“Aku juga terkejut. Tiba-tiba saja Lidi berubah menjadi tipe orang yang tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Saat ini… Aku bertanya-tanya apakah dia sedang menggoda Freed di kamar sesuka hatinya.”

“Alex!”

Aku benar-benar mengabaikan Will yang memanggil namaku dengan suara kesal.

Tapi… Tanpa peduli dengan itu, aku tetap melanjutkan.

“Mungkin… Mereka tidak akan datang ke pesta perayaan kemenangan? Akan ada kabar yang mengatakan bahwa Putra dan Putri Mahkota sedang tidak enak badan. Pasti sekarang mereka sedang ‘melakukannya’.”

“Alex!!”

Suara Will semakin nyaring.

Tapi, aku tetap tidak berhenti. Karena aku merasa untuk tidak perlu berhenti.

“Kau melihatnya, kan? Kumpulan ‘tanda cinta’ itu. Lib*do Freed begitu tinggi. Mereka sudah menjalin hubungan seperti itu, dan saat ini Freed sedang berduaan dengan gadis yang dicintainya. Bukankah aneh jika mereka tidak melakukan apapun? Tidak aneh jika mereka sekarang ‘bermesraan’. Ah, aku benar-benar ingin tahu apakah mereka akan datang ke pesta perayaan kemenangan?”

Saat aku melontarkan pertanyaan padanya, Will memelototiku dengan wajah memerah.

Ah… Dia menjadi sangat marah.

“…Alex! Kau… Kau mau menghiburku atau menggosokkan garam ke lukaku!?”

Teman masa kecilku sangat marah sehingga dia berbicara dengan suara bergemuruh, sedangkan aku hanya tersenyum ringan dan melambaikan tanganku.

“Tidak mungkin aku menghiburmu. Aku hanya memberitahumu tentang kenyataan agar kau bisa menghadapi masa depan.”

Diberitahu dengan suara ringan yang disengaja, Will membalas dengan teriakan putus asa.

"Itu bukan urusanmu!"

"Begitukah? Kupikir itu adalah hal yang penting."

Aku mengatakannya sambal tertawa, Will hanya bisa mendesah lelah.

“Kau… Kau selalu seperti itu ketika aku ingin berterima kasih. Kalau kau menghindarinya seperti ini, aku tidak akan mengatakan apa-apa. Bukankah tidak apa-apa kalau kau membiarkan aku untuk menjelaskannya?”

"Aku penasaran. Bahkan jika kau berkata seperti itu… Aku hanya tidak ingin melihatmu tertekan dan ragu-ragu… Dan aku juga tidak butuh terima kasih."

"Kau…"

Aku menatap Will untuk konfirmasi terakhir.

“…Apa kau akan muncul di pesta perayaan kemenangan?”

"Ya."

Mendengar Will yang menjawabnya dengan mata tegas dan mengangguk, akhirnya aku mengerti bahwa peranku sudah berakhir.

Itu cukup merepotkan, tapi dengan seperti ini… Dia sudah baik-baik saja.

Aku tidak peduli lagi. Dia sudah dewasa, dia bisa mengaturnya sendiri.

Dengan rasa lega, aku melihat ke arah jam. Ah… Sudah waktunya.

“Kalau begitu, aku akan mampir sebentar ke tempat Glen. Sampai jumpa lagi.”

"Oi, Alex!"

Will mengangkat tangan dengan terburu-buru, mencoba memanggilku yang pergi dengan cepat, tapi aku tidak peduli.

Seperti yang kubilang barusan, rasanya menjijikkan mendapatkan ucapan terima kasih darinya, lagipula… Aku tidak datang ke sini untuk itu.

Aku benar-benar mengabaikan panggilan Will, dan untuk memenuhi janjiku yang sangat tertunda, kali ini aku menuju ke ruangan Glen.


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?