Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 31 - Dia dan Seragam Militer 2


T/N : Penerjemah english ampe bilang, ‘harusnya bab ini judulnya “Dia dan Fetish-nya”.’

(//∇//)

 
[POV Lidi]

Dalam keadaan linglung, aku mengambil tangan Freed, lalu Freed tersenyum padaku.

Aku tetap tidak bisa menatap matanya, aku menghindari garis pandangnya. Tampaknya dia menyadarinya dan merasa bahwa ini adalah hal yang lucu.

"Lidi. Yang Mulia Raja akan mengatakan sesuatu, datanglah ke sini.”

"Eh... I... Iya"

Freed menarik tanganku, aku hanya mengangguk dan mengikutinya.

Aku terkejut dengan sikap beraniku yang tetap tidak peduli dengan situasi penting seperti ini.

Aku melangkah ke hadapan Yang Mulia Raja bersama dengan Freed, dan kami berdua berlutut, menundukkan kepala di hadapan Sang Raja.

“Aku, Johannes van de la Wilhem, mengakui Lidiana von Vivouare sebagai Putri Mahkota dari putraku, Friedrick. Saat ini saya menyatakan bahwa pernikahan mereka akan diadakan dalam waktu setengah tahun."

Mendengar pernyataan dari Yang Mulia Raja membuatku semakin menundukkan kepalaku. Tidak salah lagi, dia memang lah Raja negeri ini, hanya dengan kata-kata yang singkat aku sudah bisa merasakan auranya yang sangat luar biasa.

Seketika semua orang yang berada di aula ini terkejut dengan pernyataan itu dan menjadi berbisik-bisik, tapi tak lama setelah itu mereka kembali diam.

Akhirnya, Upacara Pertunangan berakhir, Yang Mulai Raja dan Ratu pun mulai menarik diri.

Aku menundukkan kepalaku untuk terakhir kalinya dalam Upacara Pertunangan ini, aku menghela napas lega karena akhirnya semua ini berakhir. Freed yang berada di sebelahku membantuku untuk berdiri.

"Lidi. Ayo..."

Aku menerima pengawalannya, kami pun berjalan di belakang Yang Mulia Raja dan Ratu.

Para pejabat lainnya, termasuk ayahku, semua menundukkan kepala mereka.

Freed membawaku keluar dari pusat keramaian ini.

Kami menuju ke ruang pribadi Yang Mulia Raja, aku mulai merasa lelah.

Di dalam kepalaku akhirnya Festival Seragam Militer akan berakhir, dan tampaknya mulai memasuki tahap pembersihan.

Dengan penuh pengertian aku merasa lega karena pikiranku bisa kembali tenang.

Beberapa menit setelah kami berada di ruangan ini, ayahku kemudian masuk ke sini.

Dia menutup dan mengunci pintu, lalu mengangguk ke arah Yang Mulia Raja.

“Nona Lidiana”

"Ya, Yang Mulia"

Mendengar suara Raja, aku mundur selangkah dan menundukkan kepala.

Lalu aku melepaskan tangan Freed.

“Santai saja, angkatlah kepalamu. Kami akan mengonfirmasi “Bunga Raja” sekarang.”

“Tentu saja, Yang Mulia. Silakan konfirmasi.”

Aku tidak punya hak untuk menolak.

Aku segera melepas bolero yang kupakai.

Itu mudah karena jenis pakaian ini adalah pakaian yang tidak membutuhkan bolero.

Setelah aku melepaskan bolero, “Bunga Raja” yang berbentuk Mawar Biru terlihat.

Yang Mulia Raja memandang ke arah Ratu.

“Ratuku. Tolong konfirmasi.”

“Baik, Yang Mulia.”

Sang Ratu yang selama ini hanya berdiri diam di samping Raja, mengulurkan tangannya kepadaku.

Aku kebingungan karena aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi melihat ekspresi serius Yang Mulia Raja dan Ratu, aku hanya bisa terus tutup mulut.

Diam-diam, Yang Mulia Ratu meletakkan tangannya dengan lembut di atas “Bunga Raja” ku.

Seketika aku merasa tegang karena aku seakan-akan merasakan sesuatu yang hangat di dalam tubuhku. Rasanya seperti diikat bersama dengan sesuatu yang lain oleh seutas benang halus.

Seketika aku pun menatap Yang Mulia Ratu, aku menatap matanya yang berwarna amber.

Meski wajahnya saat ini tanpa ekspresi, tapi Yang Mulia Ratu memiliki wajah yang sangat indah.

Karena Yang Mulia Ratu dilahirkan dari negara lain, fitur wajahnya berbeda dari orang-orang di negara ini, entah mengapa aku bisa melihat sesuatu seperti kelelahan yang muncul lalu menghilang di wajahnya.

Setelah menatapku sejenak, Yang Mulia Ratu mengangkat tangannya dan semuanya berakhir.

"Yang Mulia, ini tanpa diragukan lagi ini adalah “Bunga Raja”."

"Aku mengerti."

Setelah itu, Sang Ratu kembali ke tempatnya di sebelah Raja.

Sedangkan aku masih kebingungan, Freed mendekat ke sisiku sambil berkata “Terima kasih atas kerja kerasnya.”

“Ini adalah bagian dari upacara. Saat seorang wanita sudah menerima “Bunga Raja”, maka akan dilakukan konfirmasi dari orang yang sebelumnya sudah memiliki “Bunga Raja”."

"Konfirmasi…?"

"Aku sendiri tidak begitu mengerti, tapi yang jelas ada hubungan yang tak terlihat antara mereka yang memiliki “Bunga Raja”. Dan hal itulah yang digunakan untuk mengonfirmasinya, proses konfirmasi bisa dilakukan melalui sentuhan."

"Jadi yang tadi...."

Perasaan misterius yang seperti mengikatku dengan sesuatu.

Ternyata memang benar bahwa ini bukanlah tato biasa. Saat aku masih memikirkan semua itu, Freed mendekat ke arah Raja dan mereka membicarakan sesuatu,

"Kau melakukannya dengan baik, Freed. Sekarang kau telah resmi diakui sebagai Putra Mahkota. Jangan sampai kau melakukan hal yang akan membuat Keluarga Kerajaan malu dengan posisimu itu."

"Anak ini mengerti."

Aku melihat Freed yang dengan anggun ke arah Raja, aku teringat bahwa Keluarga Kerajaan hanya bisa memiliki posisi resmi saat mereka sudah memiliki istri sah. Itu berarti, selama ini Freed hanya diperlakukan sebagai Putra Mahkota hanya dalam nama.

"Lidi."

Ayahku yang sejak tadi berdiri terpisah dari kami kini menghampiriku dengan ekspresi lega.

Seketika rasa tegangku menghilang, aku lega karena akhirnya semua ini telah usai.

"Ayah."

Bagaimanapun, tampaknya ayahku memiliki sesuatu dalam pikirannya tapi ia memutuskan untuk tidak mengatakannya. Aku merasa ingin menangis karena lelah. Aku mendekati ayahku untuk memohon padanya bahwa aku ingin segera pulang, tapi Freed malah meraih tanganku.

"Kalau begitu Ayahanda, semuanya sudah selesai, kan?"

"Eh?"

Aku memandang Freed, tidak mengerti dengan maksud kata-katanya.

“Tidak bisakah kau menunggu sedikit lebih lama? Kau tidak sabaran sekali.”

“Anak ingin cepat menghabiskan waktu berduaan saja. Tolong jangan ganggu kami."

Freed berbicara kepada Raja dengan santai, dia terus memegang lenganku dan tidak melepaskannya.

Aku menatap ayahku dengan ekspresi bermasalah, tapi ayahku malah menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia sudah menyerah.

Eh? Jika upacara sudah selesai, maka aku ingin segera pulang.

"Freed."

Freed kembali menarik lenganku.

Meskipun aku sudah memberinya kode untuk melepaskan lenganku, dia malah menyipitkan matanya ke arahku dan membelai kepalaku.

......Ahh... Seperti yang diharapkan, dia memang tampan.

"Lihat, bahkan Lidi bilang dia ingin cepat-cepat berduaan dengan anak ini. Jika ini tentang diskusi, kita bisa melakukannya kapan saja, jadi untuk sekarang tolong maafkan anak ini."

"Eh... Itu bukan..."

"Lidi, ayo pergi ke kamarku. Aku akan menunjukkan jalannya."

Wajahku memerah karena senyumannya, perlahan dia menyeretku keluar.

Rasanya aku seperti anak sapi yang tidak berdaya, aku meminta bantuan ayahku, tapi dia dengan cepat mengalihkan pandangannya.

Ah... Anak sapi ini (Lidi) sudah dijual oleh ayahnya.

Tentu saja, aku mengerti maksud ayahku ini, tapi ayah macam apa yang tidak mengulurkan tangan kepada putrinya yang jelas-jelas sedang dalam masalah.

Freed, yang berada dalam suasana hati yang luar biasa baik, membawaku untuk menyusuri koridor yang indah, kami berjalan sambil berpegangan tangan. Meski begitu, aku terus berusaha berbicara dengannya.

"Freed."

"Ada apa Lidi?"

"Karena upacara sudah selesai maka aku tidak punya alasan untuk berada di sini, jadi aku ingin pulang ke rumah..."

"Kau tidak bisa."

Argumenku langsung ditolak mentah-mentah.

Dan cengkramannya di lenganku semakin kencang, wajahku menjadi cemberut, kesakitan..

"….Itu menyakitkan."

"Maaf. Tapi, Lidi yang salah di sini. Kemarin, aku sama sekali tidak bertemu dengan Lidi, kan? Tapi sekarang Lidi malah ingin pulang, mana mungkin aku memperbolehkannya."

"Bahkan jika kau mengatakan itu...."

“Lagi pula, bukankah Lidi menyukai pakaian ini? Sebaiknya Lidi menghargai pakaian ini secara perlahan."

"Ah!?"

Seketika pipiku memanas. Padahal aku sudah berusaha agar tidak ketahuan, kenapa dia bisa tahu!? Betapa cerobohnya!!

“......Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Kenapa aku malah mengelak dengan alasan yang klasik seperti itu!? Harusnya aku tidak perlu mengatakannya.

Freed dengan tegas membalas kata-kataku.

"Lidi... Sejak awal kau melihatku di aula tadi, kau sudah terpesona kepadaku sepanjang waktu."

Dia tersenyum. Ahhh.... Rasanya aku ingin menghilang saja karena malu.

Tapi... Karena aku sudah ketahuan, maka tidak ada gunanya untuk bersembunyi.

Aku pun menyerah dan meminta maaf kepadanya,

"......Aku benar-benar minta maaf."

"Tidak perlu meminta maaf. Jika Lidi menyukainya, maka aku tidak keberatan untuk terus memakai pakaian formal ini."

Sambil mengatakan itu, Freed memasukkan 2 jarinya yang panjang ke kerahnya, dan dengan lembut mengendurkannya.

'Fuuu', menghela nafas, dia dengan ringan meregangkan lehernya.

Rambut pirang indahnya dengan lembut menyebar.

"......!"

Maafkan aku......

......Gerakan itu benar-benar meluluhkan hatiku.

Tidak bagus... Itu terlalu berat untuk kutanggung.

Tanpa sengaja aku menutup mulutku dengan satu tangan dan menutup mataku, lalu mengeluarkan suara sambil gemetaran.

"......Kalau hanya sebentar..."

Tanpa sadar aku mengatakan hal seperti itu.

"Benarkah? Senangnya~"

Aku tidak bisa melawan lagi.

Aku mengaku kalah jika itu melawan seragam militer.

Mau bagaimana lagi... Gerakan yang dilakukan Freed barusan... Itu sangat curang!

Tapi, sikap yang selalu ingin membawa pulang pria-pria tampan berseragam militer tidak bisa dikendalikan.

......Maafkan aku.

Saat ini aku benar-benar seperti orang bodoh.

Freed dengan gembira tersenyum kepadaku, lalu dia mengangguk dengan wajah yang cerah.

Tampaknya ada sesuatu yang gelap bercampur dengan wajahnya yang tersenyum itu, tapi aku hanya berpikir bahwa itu hanya imajinasiku.

Ngomong-ngomong, tentu saja ada penjaga kerajaan yang ditempatkan di sepanjang koridor ini, tapi tidak diragukan lagi, aku merasa diawasi oleh banyak orang.

Melepaskan lenganku, Freed melingkarkan tangannya di pinggangku.

"Ayo pergi."

Saat dia berbisik di telingaku, aku hanya bisa mengangguk.

Festival Seragam Militer belum berakhir. Aku baru menyadari hal itu.

–––––Festival Seragam Militer, SELAMANYA

Sambil menggumamkan itu di hatiku, aku mengangkat bendera putih untuk menyerah dan dengan patuh mengikutinya.

......Kurang lebih aku ingin sikapku ini bisa dimaafkan. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa menjadi seperti ini.

Sebenarnya ada ada denganku???


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***





***

Apa pendapatmu tentang bab ini?