Side Story 1
Penerjemah : reireissDukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup.
Terima kasih~
***
TOLONG JANGAN BAGIKAN INFORMASI TENTANG BLOG INI!!
HAL ITU BISA MENGEKSPOS KAMI PADA PENULIS ATAU WEB RESMI.
JIKA ITU TERJADI, KAMI AKAN DIPAKSA UNTUK MENGHENTIKAN DAN MENGHAPUS NOVEL INI.
JADI MARI KITA HINDARI ITU BERSAMA-SAMA!!
***
Belakang ini, aku selalu memperhatikan Ophelia. Aku ingin tahu apakah
dia mengetahui sesuatu tentang insiden itu.
Di permukaan, aku tidak pernah memperlihatkan perasaanku,
seharusnya aku tidak perlu khawatir. Tapi setelah mengalami mimpi itu, aku
menjadi semakin berhati-hati. Aku tidak bisa mendekati Ophelia dengan mudah.
Begitu juga dengannya. Terkadang kami berpapasan di
koridor, tapi kini, bahkan meski aku menunggunya, aku tidak melihatnya,
jangankan dirinya, bayangannya pun tak terlihat.
Ini sudah jelas. Ophelia menghindariku.
Ophelia adalah orang yang selalu muncul di pikiranku saat
aku berlari di tempat latihan. Padahal aku sudah meningkatkan intensitas
latihan untuk menghilangkannya dari pikiranku. Alhasil, para ksatria Keluarga
Duke merasa seakan mereka akan mati.
Lalu, suatu hari, Ophelia datang menemuiku.
"Bagus juga......"
Aku menatap wajahnya yang memerah dengan kekaguman.
Ophelia bergumam kecil. Aku memiringkan kepalaku, bertanya-tanya apa diriku ini
salah dengar.
Jadi seperti itu, ya. Aku menghela nafas panjang dalam
diam. Aku berhasil menahan kenyataan bahwa tubuhku ini akan memerah karena
merasa malu.
Aku merasa sangat beruntung karena kondisi tubuhku cukup
bagus. Untuk sesaat, aku sampai bertanya-tanya apa aku berlatih agar memiliki
otot untuk momen ini? Rasanya aku menjadi semakin bodoh.
Seharusnya tidak seperti ini. Apa aku benar-benar
melupakan tujuan awalku?
Aku mengerutkan wajahku dengan ganas. Saat aku
mencurigainya yang jelas terlihat kalau dia terkait dengan insiden kereta kuda
itu, tampaknya aku semakin jatuh cinta padanya, seakan pemeran utama dalam
sebuah cerita telah berganti.
Aku memutuskan untuk terus bermain peran sedikit lebih
lama lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu Ophelia di perpustakaan,
tempat yang sering Ophelia kunjungi.
Namun, mungkin karena aku terlalu banyak berlatih selama
beberapa hari ini, begitu aku bersandar di sofa, aku langsung tertidur seperti
orang gila. Aku hanya memejamkan mata sejenak, tapi begitu aku terbangun, aku
melihat Ophelia yang sedang membaca buku di hadapanku.
Aku bangun secara diam-diam dan menatapnya dengan tenang.
Aku bisa melihat garis wajah halus di pipinya, yang jauh lebih cekung dari
sebelumnya.
Bulu mata perak yang beberapa kali berkedip, mata biru
safir yang sesekali tersembunyi oleh kedipannya. Ophelia tampak asyik membaca,
memain-mainkan ujung rambutnya, seakan itu adalah kebiasaan yang bahkan tidak
kusadari.
Aku menatapnya dengan lesu sambil memangku dagu. Bahkan
aku sendiri tidak tahu sudah berapa banyak waktu yang berlalu. Ini adalah
sebuah kedamaian yang seperti lukisan. Aku tidak ingin mengganggu waktunya yang
berharga, karena itu aku tetap diam.
Baru setelah Ophelia menutup buku yang dia baca, aku
membasahi bibirku yang terasa agak kering.
"Kamu terobsesi dengan itu."
Dari matanya, dia terlihat terkejut. Mungkin dia tidak
menyadari tatapanku sepenjang waktu.
"......Kamu tidur nyenyak."
Kami mengobrol sebentar. Ophelia menutup mulutnya dan
tersenyum saat aku mengatakan hal yang payah. Untuk sesaat, ini terasa begitu
indah. Aku tidak ingin melewatkannya.
Aku tidak ingin merusak suasana yang bersahabat ini. Tapi
kemudian, Ophelia mengambil novel yang sebelumnya pernah aku baca.
"Apa ini menyenangkan?"
Aku mengangguk, menyalahkan diriku sendiri dalam hati.
Apa itu menyenangkan? Aku tidak tahu. Bahkan, aku hanya membaca halaman pertama
dan langsung menutupnya. Bukan seleraku untuk duduk diam di suatu ruangan,
minum teh, dan membenamkan diri untuk membaca seharian.
Bagaimana pun, berkat pertanyaan Ophelia itu, aku bisa
melaksanakan rencana awalku. Dengan mengatakan isi cerita novel yang bercerita
tentang pembunuhan keluarga, aku ingin melihat apa yang dia pikirkan.
Aku memiringkan kepalaku, menjelaskan plot novel itu.
Lalu aku bertanya, bagaimana pendapat Ophelia.
"......Itu sedikit menyeramkan."
Ophelia sedikit mengernyit tapi tidak menunjukkan reaksi.
Melihat hal itu, seketika aku menjadi pasrah.
Apa hari ini berakhir seperti ini? Tanpa hasil apapun?
Untuk menghentikan Ophelia yang hendak meninggalkan ruang
kerja, aku memanggil pelayan itu. Aku ingin minum. Aku ingin melakukan
percakapan yang lebih jujur dengannya. Aku menatap mata biru yang jernih itu
dan ingin bertanya apa yang sedang dia pikirkan.
Tapi suasananya tidak berjalan ke arah yang aku inginkan.
Tiba-tiba Ophelia menjadi bersikap dingin setelah Henrietta masuk membawa
cangkir teh.
Dia minum teh dengan tenang, seperti biasa, dengan wajah
yang tidak bisa dipahami. Aku menatap mata Ophelia, tapi tidak mengerti kenapa
dia tampak sangat marah.
Tidak peduli seberapa banyak aku mencoba mengajaknya
berbicara, dia hanya tersenyum kecil dan tidak membalas apapun. Seolah
kehausan, aku langsung meminum segelas anggur dengan sekali teguk. Rasanya
perutku kembung.
Seperti biasa, Ophelia pergi terlebih dahulu. Mataku
mengikutinya, mengikutinya dengan pandangan mata penyesalan.
Tapi Ophelia tidak pernah menoleh ke belakang sekali pun.
***
Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.
Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!
Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!
***
Puas dengan hasil terjemahan kami?
Dukung SeiRei Translations dengan,
***
Previous | Table of Contents | Next
***
Apa pendapatmu tentang bab ini?
0 Comments
Post a Comment