Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 56.5 - Tindak Lanjut Kakak


[POV Alex]

"Aah... Dia melakukannya."

Aku memandang Freed dan adikku yang saling berpelukan dan menghela nafas.

Kemudian, dengan sedih aku melihat teman masa kecilku yang berada di sisi mereka.

Aku tahu Will ada di sana. Tapi mungkin, adikku tidak menyadarinya.

Sepasang kekasih itu terlihat bahagia, cinta pertama mereka saling menguntungkan.

Bagaikan sebuah kebohongan adikku belum juga menyadari perasaannya sendiri

Mereka menjadi pasangan konyol yang mengganggu lingkungan sekitar.

Dari cara Freed dan Lidi berbicara satu sama lain, terlihat jelas bahwa cinta mereka itu nyata.

Itu di luar dugaanku.

Tanpa memperhatikan tatapan heran dari sekeliling mereka, mereka memasuki dunia milik berdua.

Yah... Bahkan ini adalah pertama kalinya aku melihat wajah Freed yang seperti itu.

Suaranya terdengar manis saat dia memanggil adikku. Dia tampak seperti orang yang sangat berbeda, aku tidak bisa berhenti tertawa. Karena dia memamerkan sikapnya yang seperti itu, tidak ada pilihan selain menerimanya.

Di saat yang sama, aku merasa sangat bersimpati pada Will yang berada di samping mereka.

Betapa menyakitkan bagi teman masa kecilku, seorang wanita yang dicintainya sejak kecil, kini sedang memeluk pria lain di depan matanya. Tapi, adikku itu mengarahkan perasaannya pada Freed. Aku tidak bisa menyalahkannya, cinta memang seperti itu. Itu di luar kendali seseorang.

Itu tidak berjalan sesuai keinginan.

Berpikir normal, Will memiliki spesifikasi tinggi. Membuat wanita yang dia cintai pingsan, tidak akan menjadi masalah. Tapi, sayangnya pihak lain itu adalah adikku.

Will yang tidak membuat dirinya diperhatikan juga bersalah, tapi bagaimanapun juga adikku ikut bersalah karena dia sudah menunjukkan kebodohannya dengan tidak pernah menyadari perasaan Will.

Ini merepotkan, tapi kurasa ini adalah giliranku.

Teman masa kecilku menguat. Orang tuaku memiliki ekspresi yang menyedihkan setelah menyaksikan rangkaian kejadian ini.

Sambil menggaruk pipiku, aku mendekati kedua sejoli itu.

“Ah... Maaf mengganggu saat kalian tersesat di dunia yang hanya terdiri dari kalian berdua saja. Tapi, bisakah kalian kembali ke dunia nyata?”

Aku sengaja mengatakan itu untuk memisahkan mereka yang sejak tadi terus berpelukan.

Tapi... Mungkin itu karena sudah sebulan lamanya mereka tidak bertemu, daripada membiarkannya (Lidi) pergi, Freed justru semakin memperkuat pelukannya.

Hoi, lihatlah! Orang-orang di sini menjadi terkejut dengan sikapnya itu, bisakah dia berhenti melakukannya.

Dari saat Freed mulai menunjukkan kegilaan dan keterikatannya, para ksatria dan anggota keluarga mereka telah menatap mereka berdua dengan heran.

Tentu saja.

Pertunangan dan pernikahan adikku murni dianggap sebagai sebuah kepentingan politik. Tidak mungkin mereka membayangkan bahwa Putra Mahkota akan bertindak seperti ini.

Tetap saja, entah bagaimana aku berhasil mengirim mereka ke kamar Freed.

Lebih baik mereka bermesraan dengan bebas di kamar Freed daripada di depan umum.

Aku hanya bisa menghela nafas melihat betapa penuh cinta tatapan keduanya.

Aku tidak ingin melakukannya, tetapi untuk membuat mereka segera pergi dari sini, dengan seenaknya aku menyebutkan bahwa aku akan berurusan dengan pekerjaan administrasi Freed untuk sementara. Apa aku benar-benar akan melakukannya? Itu masalah lain. Aku hanya mengatakan bahwa aku akan melakukan apa yang kubisa.

Benar, aku tidak peduli dengan situasinya.

Aku hanya ingin menjaga perasaan teman masa kecilku yang lainnya.

Karena itu... Kalian sejoli yang sedang di m*buk cinta, cepatlah pergi.

Aku membuat adikku berkorban, tapi kurasa, tidak apa-apa karena pada akhirnya dia akan menyukai Freed.

Pertama-tama, dia bahkan tidak melawan tindakan Freed.

Sebaliknya, dia tampak sedikit bahagia dengan itu.

...Lalu, kenapa dia belum menyadarinya?

Tidak ada masalah karena orang itu lucu, tapi itu benar-benar sebuah misteri.

Meski aku memiringkan kepalaku, aku mengalihkan pandangan dari keduanya yang pergi dari tempat ini ke teman masa kecilku.

“Yo, Will. Kau pasti lelah.”

“...Ah... Alex.”

Aku bingung bagaimana aku harus menyapanya, pada akhirnya aku memanggilnya dengan kata-kata netral.

Will yang merespon dengan lesu tersenyum lemah.

"Bagaimana aku harus mengatakannya... Kau mengalami kesulitan?"

“Tidak juga... Itu bukan ekspedisi yang besar.”

Will, yang baru saja mengalihkan pandangannya, menyakitkan untuk dilihat.

Secara tidak sengaja, suaraku menjadi intens.

“Bukan itu... Jangan bilang kalau itu tidak sakit. Wajar untuk merasa sakit."

“Alex, aku...”

Saat dia mengalihkan pandangannya dari kata-kataku, aku memeluk bahunya dan menepuknya untuk menghiburnya.

“Ayo pergi! Aku akan menemanimu. Bagaimana?”

“......”

Ketika aku memintanya, dia mengangguk dalam diam dan kami meninggalkan tempat itu.

Seharusnya aku segera mengambil alih pekerjaan Glen saat ini, tapi aku memutuskan untuk mengabaikannya.

Lakukan itu nanti. Seharusnya untuk sekarang, tidak ada pekerjaan penting yang membuatku harus segera turun tangan.

Ada hal yang lebih penting dari itu.

Hal terpenting saat ini bukanlah untuk mengambil alih pekerjaan, tapi tetap berada di sisi teman masa kecilku yang patah hati. Bukankah begitu?


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?