Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 51.1 - Penyihir Aneh 4


[POV Delris] 

“Warna apa ini...”

Untuk memulihkan kekuatan magis yang habis dari pria di depanku ini, aku menawarkan teh yang sama dengan yang kubuat untuk Lidi.

Aku bertanya-tanya bagaimana dia akan bereaksi, tetapi, sebagian besar reaksinya sama seperti yang kubayangkan.

Dia meringis jijik.

Bisa dibilang kalau itu adalah reaksi yang umum.

“Kalau kamu mengeluh maka kamu tidak perlu meminumnya. Aku tidak akan memaksamu... Bahkan anak itu (Lidi) langsung meminumnya tanpa ragu.”

“...Aku akan meminumnya.”

Sebagai ujian, aku mencoba membandingkan dirinya dengan Lidi, dan ekspresinya tampak kesal, dia mudah untuk dimengerti.

Dengan ragu-ragu, dia mengambil gelas itu.

Hanya dengan melakukan itu saja, dia patut untuk dipuji.

"Ini luar biasa. Apa ini benar-benar minuman? Bahkan racun tingkat tertinggi yang kutangani di Serikat tidak memiliki warna seburuk ini."

“Kamu menjengkelkan. Cepat putuskan, apa kamu ingin meminumnya atau tidak?"

Diberitahu dengan begitu kejam, dia merengut tidak suka, tetap saja aku menerima jawaban positif yang jelas darinya.

“...Aku akan meminumnya. Jika dia meminumnya, maka aku juga akan meminumnya.”

Melihat ke dalam cangkir, pria itu mengeluh, tetapi dia berhenti seolah-olah telah memutuskan.

Kemudian, dia meminumnya dalam satu tegukan.

“Uwwaaaaa.... Hooeeekkkkkk... Sialan! Menjijikkan...!!!”

Tepat setelah meminumnya dengan penuh semangat, pria itu menekan tenggorokannya dan mengerang.

Dia memandangku dengan mata berkaca-kaca, meminta air.

“Tidak bagus! Itu tersangkut di tenggorokanku! Sial! Tolong... Air... Beri aku air!”

“Kamu kan seorang pria, tapi kamu sangat menyedihkan. Anak itu bahkan lebih berani darimu.”

Aku pun memberinya air, tetapi jauh di lubuk hatiku, aku terkesan dengannya.

Sama seperti Lidi, aku tidak berpikir dia juga akan meminumnya.

Aku mengingat pelanggan yang datang sebelum dia (Lidi).

***

Itu terjadi beberapa tahun yang lalu.

Pelanggan itu ingin mendapatkan obat, dia meminta obat untuk memulihkan kekuatan magis.

Karena dia menginginkan efek yang cepat, maka aku menyiapkan teh ini (teh yang diminum Lidi sama Cain), tetapi saat melihatnya pelanggan itu berteriak.

“Warna apa ini! Mana mungkin benda beracun seperti itu adalah obat! Kamu mencoba untuk membunuh orang yang tak bersalah sepertiku dengan racun! Apa tujuanmu!? Ingin mengambil keuntungan dariku!? Atau kamu tidak ingin menjual obatnya!?”

Pria itu melempar gelas ke lantai. Seketika gelas pecah dengan suara keras dan isinya tumpah.

Melihatnya dalam diam, jauh di lubuk hatiku aku merasa sedih karena itu adalah teh dari tanaman obat yang cukup berharga.

"Hahaha. Rasakan itu. Dasar iblis! Aku tidak akan tertipu. Aku membayar dengan uang untuk mendapatkan obat. Hmph! Hampir saja diracuni."

“......”

Setelah melemparkan hinaan untuk kepuasannya sendiri, pelanggan... Tidak, pria itu akhirnya pergi.

Perlahan aku mengumpulkan pecahan gelas itu.

“Aku tahu, tapi...”

Selesai membersihkan pecahan itu, aku menghela nafas.

Bahkan jauh sebelum aku menjadi penyihir, aku sudah terbiasa disalahpahami.

Kebaikan dihargai dengan kedengkian, itu sudah menjadi hal yang biasa.

Meski begitu, bukan berarti ini tidaklah sakit.

“...Haruskah aku sedikit memperkuat penghalang di sekitar sini.”

Setelah itu, untuk beberapa waktu aku tidak ingin melihat orang.

Agar tidak mengalami kebencian seperti itu lagi, aku memutuskan untuk memperkuat penghalang sehingga tidak ada yang bisa menemukanku.

Kemudian sesuai rencana, pelanggan berhenti datang ke sini.

Sebelumnya, tokoku selalu mendapatkan beberapa orang pengunjung setiap beberapa bulan sekali, tetapi itu berubah, tidak ada lagi orang yang bisa menemukan tokoku.

Dan setelah beberapa tahun, dia datang.

Menggunakan kemampuan netralisasi yang jarang terlihat, dia membatalkan penghalang dan memasuki toko dengan senyum ramah.

Seorang wanita dari keluarga bangsawan yang bergengsi.

Begitu aku melihatnya, hanya dengan sekali pandang, aku bisa menyadarinya.

Sejujurnya, aku tidak ingin menjual obatku kepadanya.

Tapi, meskipun penampilannya masih terlihat seperti wanita bangsawan, bagian dalamnya tidak masuk akal.

Aku merasa kalau dia adalah orang yang menarik, lalu tidak butuh waktu lama untuk berpikir bahwa aku tidak akan keberatan untuk memiliki hubungan dengannya.

Dia selalu melebihi ekspektasiku, sebelumnya juga, tapi kali ini dengan sigap dia meminum teh yang kusajikan padanya tanpa menyebutnya menjijikkan.

Kurasa, dia tidak menyadari betapa senangnya aku dengan itu.

Tapi, tidak apa-apa.

***

Tatapanku kembal ke arah pria di depanku, dia terlihat menggigil dengan mata berkaca-kaca.

“Huwaaa... Ini benar-benar buruk. Tidak bisakah sesuatu... Sedikit saja... Untuk meredakan rasa ini? Tapi... Kuakui, efeknya luar biasa.”

"Anak itu juga mengatakan hal yang sama, obat yang efektif memang seperti ini."

“Kupikir aku akan mati.”

Padahal aku membandingkan dia dengan Lidi hanya sebagai lelucon, tapi tetap saja, aku senang dia mau meminumnya.

Dari penampilannya, sepertinya dia tidak jujur ​​pada dirinya sendiri.

Karena dia sudah meminumnya――― Jadi aku berkata...

“Apa kamu akan memilih anak itu sebagai tuanmu?”

Saat aku menanyakan hal itu, ekspresinya berubah menjadi terkejut, lalu dia menggaruk kepalanya.

“Ah... Begitu, kamu tahu tentang keluargaku... Sejujurnya, aku belum tahu... Tapi, sepertinya aku bisa mencoba...”

Lidi tidak pernah sekali pun menolakku―――

Dengan mata tertunduk, dia mengatakannya dengan ekspresi penuh kerinduan akan sesuatu.

Dalam arti yang berbeda, pria ini juga menjalani kehidupan yang tidak dapat diterima.

Aku menjadi seseorang yang ditakuti dan terus disalahpahami.

Di sisi lain, dia, dia menjadi seorang pria yang di benci karena berasal dari klan yang dianggap terkutuk.

Keadaan kami memang berbeda, tapi kami sama-sama orang yang ditolak.

Kupikir wajar untuk terpesona olehnya (Lidi) yang dengan mudah menerimanya dengan senyuman.

Karena itu juga yang terjadi padaku.

"Aku mengerti. Akan lebih baik kalau kamu melindungi anak itu."

“Tapi... Aku masih belum tahu.”

“Ah... Begitu.”

Meskipun dia menjawab begitu, aku merasa kalau dia sudah memutuskan jawabannya.

Terlepas dari penampilannya yang suram, aku merasa lega kalau dia akan melindungi anak yang langka itu.

Aku terkejut dengan pemikiranku itu――― dan tertawa. Kurasa, itu tidak akan terlalu buruk.


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?