Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 44 - Dia dan Daifuku


[POV Lidi] 


“Stroberi... Stroberi...”

Aku sedang berada di dapur kediaman yang sangat luas.

Di sini, aku sedang menguleni adonan sambil bersenandung.

Sejak beberapa waktu yang lalu, aku merasakan banyak tatapan penuh gairah yang tertuju kepadaku.

Sepenuhnya aku mengerti, mereka semua memandangku karena penasaran.

Aku melihat ke belakang dengan senyum masam dan memanggil Kepala Koki, Thomas. Dia adalah seorang pria gemuk dan pendek, umurnya sekitar 60 tahun, aku selalu mempercayainya untuk membuat makanan yang enak.

"Kalau kau penasaran, haruskah aku mengajarimu?"

“...!! Bolehkah? Guru!!”

Sambil berkata seperti itu, Kepala Koki bersama dengan koki bawahannya keluar dari tempat mengintip mereka.

Aku masih belum terbiasa dengan julukan yang diberikan oleh para koki di kediamanku.

...Bisakah kalian berhenti memanggilku guru?

***

Di kehidupanku yang sebelumnya, aku hobi memasak.

Makanan Jepang, makanan Cina, makanan Barat, kurang lebih aku bisa membuat berbagai jenis makanan, tetapi yang menjadi fokus utamaku adalah manisan.

Di dunia ini ada banyak bahan yang menyerupai bahan-bahan di duniaku yang sebelumnya, tetapi varian resep di dunia ini masih sedikit. Itu mengecewakan, padahal di dunia ini banyak bahan-bahan yang bisa membuat makanan yang luar biasa lezat.

Tentunya, sebagai orang yang suka makan dan memasak aku tidak bisa menerima situasi ini.

Kalau apa yang ingin kumakan tidak ada, maka aku harus membuatnya sendiri.

Untungnya, aku memiliki keterampilan dalam hal itu.

Karena itulah, aku segera memutuskan untuk mereproduksi resep dari duniaku yang sebelumnya.

Dan tentu saja, fokus utamaku adalah mereproduksi manisan Jepang.

Kenapa manisan Jepang?

Anehnya, di dunia ini, terdapat manisan ala Barat, tetapi tidak ada manisan Jepang.

Di sini, ada tiramisu. Dan juga, ada mille-feuille.

T/N : Tiramisu

T/N : Mille-feuille

Kalau begitu, kenapa tidak ada manisan yang menggunakan pasta kacang merah?

Padahal aku menyukai rasa manisnya yang samar-samar!! Itu luar biasa.

Lalu, tanpa sadar, ada dari ‘mereka’ yang makan terlalu banyak.

Ayo lakukan, aku menyemangati diriku sendiri.

Kurasa hanya ada satu pilihan kalau aku ingin mereproduksi mereka.

Dengan mengingat kembali kenangan masa laluku, aku bersumpah untuk mereproduksi 'daifuku' dengan seluruh kecakapanku.

T/N : Daifuku biasa, isinya pasta kacang merah (azuki)

***

Itu saat aku berusia 13 tahun. Mengingatnya sekarang, kurasa, aku ini benar-benar anak nakal.

Waktu itu, Kepala Koki benar-benar merasa terganggu saat Putri Duke tiba-tiba saja ingin memakai dapur.

Bahkan sampai sekarang, aku bersyukur karena waktu itu Kepala Koki mengizinkanku memakai dapur –meski dengan tatapan mau bagaimana lagi, mana mungkin aku bisa menghentikan seorang Putri Duke.

Akhirnya aku bisa membuat manisan yang kuinginkan.

Pertama, aku mulai mengerjakan pasta kacang merah. Meskipun ada kacang azuki, tidak ada konsep pasta kacang merah di dunia ini. Jadi, aku tidak punya pilihan selain membuatnya sendiri.

Awalnya, Kepala Koki dan koki bawahannya tidak memahami apa yang sedang kulakukan, tetapi mereka terus mengamatiku secara bertahap sampai akhirnya mereka memahaminya.

Bagiku, 'daifuku' yang kuselesaikan ini tidak bisa menerima pujian yang layak.

Tetapi, para koki yang berlinangan air mata diliputi emosi setelah mencicipi manisan pasta kacang merah yang kubuat ini.

Setelah itu, setelah banyak upaya yang kulakukan untuk mereproduksi 'daifuku', akhirnya aku bisa membuat ‘daifuku’ yang layak untuk dipuji dan hal tersebut mengejutkan dunia.

Diam-diam, kakakku memakannya dan membawanya ke Istana.

'Daifuku' belum dikenal oleh orang-orang di dunia ini.

Awalnya, orang-orang merasa gugup, mereka mendekati kakak untuk bisa mencicipinya, dan setelah memakannya, seketika mereka terpikat oleh rasa manis dan tekstur yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Desas-desus pun menyebar dan sejumlah besar orang jadi mendekati kakak karena ingin mencicipi ‘daifuku’, tetapi kakak hanya menjawabnya dengan senyuman.

Ia hanya membanggakan bahwa itu adalah resep asli dari koki pribadi Kediaman Duke Vivouare, ia tidak berbicara lebih rinci lagi selain itu.

Rahasia hanya membuatmu menjadi semakin menginginkannya. Begitulah manusia. Untuk mengetahui mengenai resep ‘daifuku’, banyak bangsawan yang mengirim mata-mata ke kediaman kami.

Tentu saja, ayah dan kakak tidak akan membiarkan hal itu begitu saja, mereka berdua menggagalkan setiap upaya, tetapi tampaknya kakak melakukan sesuatu yang mengerikan untuk menangani masalah itu.

Ngomong-ngomong, itu adalah cerita beberapa tahun yang lalu, tetapi tampaknya ada orang-orang yang tidak dapat melupakan rasa ‘daifuku’ yang sempat mereka rasakan di Istana, jadi banyak para bangsawan yang berpegangan erat pada kakak.

Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Aku mendengar desas-desus bahwa salah satu dari para bangsawan yang menginginkan resep ‘daifuku’ itu adalah orang yang memusuhi kakak di masa lalu.

"Orang itu adalah penggila manisan, kan?"

Beberapa hari sebelumnya, kakak sengaja mengambil ‘daifuku’, aku mendengar kakak menggumamkan semua itu.

Akhirnya, ‘daifuku’ kini telah mendapatkan reputasi sebagai hadiah dari Kediaman Duke Vivouare.

'Daifuku' adalah hadiah saat Keluarga Vivouare mengunjungi Istana.

'Daifuku' akan dibawa saat Keluarga Vivouare mengunjungi kediaman teman dekat keluarga kami.

‘Daifuku’ adalah hidangan penutup untuk menyambut tamu. Karena hanya bisa dimakan di Kediaman Vivouare, maka kelangkaan juga merupakan salah satu alasan di balik popularitasnya yang luar biasa.

Aku tahu resep lain selain ‘daifuku’, jadi kupikir tidak perlu untuk tetap berpegang pada ‘daifuku’ saja, tetapi karena ayah sangat menyukai ‘daifuku’ jadi aku membiarkannya.

Ayah, yang awalnya ragu-ragu, sekarang dia jadi sangat menyukainya, bahkan ayah selalu tersenyum lebar saat melihat ‘daifuku’.

Sesekali, aku melihat ayah membawanya ke Istana. Mungkinkah, Yang Mulia Raja juga memakannya? Aku belum mendengarnya secara langsung, tetapi aku punya firasat bahwa beliau memakannya.

Aku membuat ‘daifuku’ semata-mata hanya untuk memuaskan hasratku sendiri, tetapi aku menjadi senang saat tahu bahwa itu menjadi berkontribusi besar ke kediaman.

Tapi... Jujur ​​saja, tidak menyenangkan hanya dengan membuat ‘daifuku’ saja.

Ada banyak manisan yang ingin kubuat.

Setelah bosan membuat ‘daifuku’, aku memutuskan untuk memberi tahu resepnya kepada Kepala Koki.

Karena pasti akan menjadi merepotkan, jadi aku memintanya untuk mengaku bahwa ‘daifuku’ adalah buatannya, bukan buatanku.

Namun...

Setelah aku memberitahunya resep ‘daifuku’, Kepala Koki menatapku heran dan bertanya.

Apakah tidak apa-apa, memberi tahu saya resep yang sangat penting ini?’

Di dunia ini, para pengrajin mencuri teknik dan dasar-dasar dari orang lain, tentunya, begitu juga dengan koki. Seorang koki yang memiliki resep asli akan menjadi sangat dihargai. Karena itu, tidak sedikit dari para penemu resep yang tidak mengungkapkan mengenai resep masakannya sampai mereka tiada.

Bagiku, aku tidak ingin hidangan yang lezat malah terkubur di dalam kegelapan seperti itu, tetapi, tampaknya mereka tidak masalah dengan hal itu.

Saat aku mengangguk dengan santai, Kepala Koki hanya menundukkan kepalanya. Kemudian, dia bertanya apakah dia boleh memanggilku dengan sebutan ‘Guru’.

Aku tidak memikirkan Kepala Koki akan menanyakan hal seperti itu, tentunya aku menolaknya. Aku tidak ingin dipanggil seperti itu.

Aku merasa kalau itu merepotkan, aku ini hanya ingin membuat makanan saja, tidak lebih.

Tetapi Thomas dan bawahannya menggelengkan kepala, tidak mau mengalah.

Akhirnya aku pun menyerah, dan sebagai guru mereka, untuk beberapa alasan kekuasaan dapur menjadi di bawah kendaliku...

“Daifuku dengan stroberi adalah ide yang bagus!! Guru!!”

T/N : Daifuku Stroberi (Ichigo Daifuku)

Apa yang kubuat sekarang disebut, 'daifuku stroberi'.

Sejak saat itu, mereka tidak pernah memanggil saya 'Nona' lagi. Semua koki di dapur Kediaman Vivouare memanggilku ‘Guru’.

Karena Ayah tidak mengatakan apa pun, maka tidak ada yang menghentikan mereka.

"Kupikir ‘daifuku garam’ dan ‘daifuku mugwort’ enak, tapi bagaimanapun juga ‘daifuku stroberi’ adalah favoritku."

Bagi seseorang yang hidup di duniaku yang sebelumnya, semua itu adalah hal yang wajar, tetapi bagi orang di dunia ini, itu tampak sebagai ide yang liar. Meskipun aku mengerti, tetapi aku tetap merasa aneh.

Ah... Itu benar, meskipun aku mengetahui bahwa sikap polosku yang pura-pura itu akhirnya terungkap kepada keluargaku, aku tetap tidak merubah sikapku ini, jadi selama berada di kediaman aku tetap bersikap sama seperti sebelumnya.

Bagaimanapun juga, dalam waktu setengah tahun lagi aku akan menikah, meski sikap asli sudah ketahuan, aku tetap melanjutkan aktingku.

“'Daifuku garam'! Anda sudah memikirkan resep lain!! Seperti yang diharapkan dari Guru!!”

"Ah..."

...Sial.

Sepertinya aku sudah mengatakan hal yang seharusnya tidak kukatakan.

Mendengar kata-kata 'daifuku garam' dan 'daifuku mugwort'. Thomas sudah mulai bersemangat. Refleks, aku menempelkan tangan ke pelipisku.

Kalau sudah begini, mereka ini tidak bisa dihentikan.

Tidak, aku sudah menyelesaikan ‘daifuku’. Aku benar-benar ingin membuat manisan lain, tetapi, tampaknya itu akan sulit.

Aku memikirkan apa yang harus kulakukan. Aku pun memutuskan untuk melarikan diri dengan cepat.

Aku tersenyum manis dan memberi tahu Thomas.

"Ada hal yang harus kuurus. Aku permisi dulu, ya."

"Ah... Guru!!"

Sambil memikirkan banyak varian ‘daifuku’ yang belum mereka lihat, aku buru-buru mengemas sebagian ‘daifuku’ yang kubuat tadi ke dalam sebuah kotak dan melarikan diri dari dapur.

Sepertinya Thomas mengatakan sesuatu, tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya.

Dalam hal memasak, pria itu sangatlah gigih. Tidak peduli berapa banyak pengetahuan mengenai masakan yang telah kuberikan kepadanya, itu masih tidak cukup.

Entah bagaimana aku berhasil menghindar dari para koki dan kembali ke kamarku, tetapi itu membuatku merasa lelah.

"Fiuh... Hampir saja aku menggali kuburku sendiri..."

Aku meletakkan kotak itu di atas meja, aku membungkusnya dengan indah menggunakan kertas kado dan buru-buru berganti pakaian.

Dan seperti biasa, aku akan mengambil tali dari bawah tempat tidurku, seketika sebuah pikiran terlintas di benakku.

"...Mungkin..."

...Itu tidak terpikirkan, tetapi patut dicoba.

Aku melihat keluar jendela dan berbalik. Aku membawa kotak itu dan menuruni tangga dengan pandangan acuh tak acuh.

Ibuku yang berada di lantai satu pun memiringkan kepalanya saat melihatku yang membawa sebuah kotak.

Ibu tidak mempermasalahkan dengan penampilanku yang memakai gaun rakyat biasa.

"Ara... Lidi, kau mau keluar?"

"Ya, ibu. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang telah menolongku."

"Ibu mengerti, jangan terlambat pulang, ya."

"Aku mengerti."

Mudah sekali, aku bisa keluar rumah dengan mudah.

"......"

...... ......

...... ......

...... ......

...Hoi... Hoi...

...Hoi... Hoi... Hoi... Hoi...

Aku berjalan beberapa langkah dalam keheningan, tetapi tiba-tiba aku berhenti berjalan dan berjongkok.

Aku memegang kepalaku.

"Whoaa... Yang terburuk..."

Setelah aku ketahuan menyelinap pergi dari kediaman...

Sikap asliku yang terungkap, aku mendapat ide untuk langsung pergi melalui pintu depan, tetapi ternyata ada Ibu di sana.

...Ibu bersikap biasa saja.

"Aku mengerti... Tentu saja. Aku merasa kalau itu aneh..."

Mustahil selama ini aku tidak terekspos padahal Kediaman Vivouare memiliki unit intelijen pribadi.

Selama ini, semua orang sudah tahu kalau aku menyelinap keluar melalui jendela, dan selama ini mereka berpura-pura tidak mengetahuinya.

"Kuno..."

Aku menjatuhkan bahuku.

Memalukan sekali......

"...Yah... Tapi, dengan ini semuanya akan menjadi lebih mudah. Jadi... Ya, sudahlah."

Seharusnya aku menyadari semua ini dengan lebih cepat.

Tetapi... Selama ini aku tidak berpikir seperti itu.

Aku segera bangkit, menyemangati diriku sendiri.

Untuk sekarang, mari selesaikan tujuanku terlebih dahulu.

Apa yang kukatakan kepada ibu tadi bukanlah kebohongan.

Ada seseorang yang sudah menolongku –yaitu Delris. Aku berpikir untuk berterima kasih kepadanya.

Karena ini adalah kesempatan yang langka, aku berpikir untuk membawanya hadiah. Karena itulah, sejak tadi pagi aku mengurung diriku di dapur.

"Aku ingin tahu apakah dia (Freed) sedang bertarung sekarang..."

Tanpa sengaja, aku menatap langit dan menggumamkan beberapa kata.

Tanpa sadar aku menatap awan cirrocumulus yang terlihat seperti sisik yang membentang.

Pada akhirnya, Freed tidak datang pada keesokan harinya.

Itu wajar.

Karena Tarim sudah bergerak, dia pasti segera berangkat ke garis depan.

Pagi hari tadi, ayah memberitahuku mengenai kepergiannya (Freed).

Ayah bilang, ‘Putra Mahkota pergi ke garis depan.’

Saat aku diberi tahu seperti itu, aku hanya bisa mengangguk.

Sebelumnya, aku bisa menerimanya dengan tenang saat kakak memberitahuku kemarin, tetapi, jujur, pikiranku menjadi kacau balau.

Tidak peduli seberapa kuat Freed, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi.

Bukankah seperti itulah medan perang?

Karena dulu, aku tinggal di negara yang damai –di mana tidak ada perang, jadi itu cukup mengejutkan bagiku.

Meskipun ada perang di dunia ini, meskipun aku bisa memahaminya, kupikir, itu adalah hal yang bukan urusanku.

Semua orang yang tinggal di negara ini sadar bahwa Freed adalah Panglima Tertinggi, bersama dengan tentara yang ia pimpin, ia bermaksud untuk menghentikan Tarim.

Freed mengambil alih komando tertinggi atas 3 Ordo Ksatria. Di antara mereka ada Ordo Primera Chivalric yang terdiri dari para ksatria elit, yang selalu siap untuk dikirim ke Margrave Shallum.

Dan, di pasukan itu ada Divisi Penyihir yang dipimpin oleh Will untuk memberikan dukungan dari belakang.

Itu wajar, karena hanya Komandan Divisi Penyihir yang bisa membuka gerbang untuk menteleportasi pasukan.

Tetapi, meski aku pernah mendengar kalau Will pergi ke sana setiap tahun, aku belum pernah merasa cemas seperti ini...

Lagi pula, apakah itu berbeda karena Will adalah pendukung dari belakang?

Aku pernah mendengar bahwa Freed berkelahi di garis depan.

Padahal biasanya, Panglima Tertinggi memimpin dari belakang.

Tetapi, karena kekuatan bertarungnya yang sangat tinggi, akan lebih efektif jika dia berada di garis depan, jadi dia selalu berada di sana.

Dia tidak untuk pamer, dia adalah seorang prajurit sejati.

Mengalahkan musuh, memotivasi para ksatria, dan membawa kemenangan sebagai Raja di masa depan.

Itulah perannya.

"Aku harap... Dia tidak terluka."

Aku belum begitu mengenalnya.

Jadi, selama ini aku tidak pernah memikirkannya.

Tetapi, sekarang setelah aku mengenalnya, tidak mungkin bagiku untuk tidak khawatir.

Bagaimanapun juga, ini adalah perang. Apalagi dia bertarung di garis depan.

...Tentu saja, aku menjadi khawatir.

Itu benar... Wajar aku merasa khawatir.

Meski begitu, tidak peduli seberapa banyak aku berpikir, aku tidak bisa melakukan apa pun.

Yang bisa kulakukan hanyalah mendoakan keamanan keduanya.

Hanya karena saat ini aku bersikap melankolis, bukan berarti ada yang berubah dari diriku.

Siapa pun pasti akan bersikap seperti ini.

Itu benar...

---Inilah diriku yang seperti biasa.

Terengah-engah, aku mengalihkan pikiranku dan kembali berjalan.

Tujuanku adalah rumah Delris.

Kira-kira akan seperti apa reaksinya saat aku memberikan kotak yang berisi ‘daifuku’ dan ‘daifuku stroberi’ yang kusiapkan sebagai ucapan terima kasih ini.

"Kuharap dia akan senang."

Dengan ringan aku mengangkat bungkusan ini, aku terkikik.

Seperti apa reaksinya saat tahu kalau aku adalah pencipta ‘daifuku’ yang terkenal?

Kali ini juga, aku sangat berhutang budi kepada Delris.

Kuharap, aku bisa membalasnya, meski itu sedikit.

Masih terlalu dini untuk musim dingin.

Aku berjalan dengan santai menuju kota sambil melihat-lihat pohon-pohon yang daunnya sudah berguguran karena angin musim gugur.


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?