Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 40 - Teman Masa Kecil 3


[POV Freed] 


"......Kau sama sekali tidak menahan diri, ya......"

Aku pikir dia akan mengincar mukaku, ternyata dia malah menargetkan perutku.

Dampaknya, membuatku kesulitan bernapas untuk sejenak. Aku mengerang, memandang Alex. Dia masih mengepalkan tangannya sambil memelototiku.

"Aku menahan diri untuk tidak memukul wajahmu...... Bagaimanapun juga, perutmu itu cukup solid. Justru tanganku terasa sakit sekarang."

"Terima kasih atas pujiannya. Yaaa... Bagaimanapun juga aku ini tetaplah Panglima Tertinggi dari Ordo Ksatria."

‘Benar juga...’ ucap Alex pelan sambil mengangguk setuju.

"Jadi, akhirnya kau telah diakui secara resmi."

"Itu karena aku sudah memberikan 'Bunga Raja'."

Tentara utama negara ini terdiri dari lima ordo, yakni tiga Ordo Ksatria, Ordo Ksatria Pengawal Kerajaan, dan Divisi Sihir.

T/N : Di sini, Divisi Sihir bertuliskan 魔術師 団 / majutsu shidan yang artinya Divisi Seni Magis. Dengan kata lain cakupannya lebih besar, bukan hanya 魔法 / mahou yang berarti sihir biasa pada umumnya. Tapi juga bukan berupa 秘 術 / hijutsu yang berarti seni/teknik rahasia yang sebelumnya sudah dijelaskan di chapter-chapter lalu.

Ordo Ksatria Pengawal Kerajaan adalah inti dari Ordo Ksatria. Tadinya, aku berada di unit ini sebagai pemimpin yang berada di bawah kendali langsung Ayahanda dan bertanggung jawab atas pertahanan Ibukota Kerajaan. Unit ini juga merupakan unit di mana Glen menjadi Kapten.

Tiga Ordo Ksatria, yakni Primera, Segunda, dan Tercera memiliki tugas masing-masing. Tetapi, posisi Panglima Tertinggi untuk ketiga ordo ini adalah Putra Mahkota. Hal tersebut sudah berjalan selama beberapa generasi.

Karena aku sudah memberikan Bunga Raja, maka secara resmi aku telah diakui sebagai pewaris. Dan secara bersamaan peranku sebagai Panglima Tertinggi juga telah dianggap resmi.

Namun, masalah mengenai Bunga Raja hanya diketahui oleh segelintir orang dan merupakan informasi tersembunyi.

Meskipun, bagi para bangsawan dan orang-orang lainnya yang tidak mengetahui kebenaran itu sudah menganggapku sebagai Panglima Tertinggi.

Saat aku belum memberi ‘Bunga Raja’, meski banyak yang tidak mengetahuinya. Tetapi, Panglima Tertinggi yang sebenarnya adalah Yang Mulia Raja.

Sampai aku dianggap sebagai pewaris sah, aku hanya menjadi 'Putra Mahkota dalam nama'.

"Dengan ini, aku tidak perlu lagi meminta persetujuan dari Ayahanda. Pekerjaan akan menjadi lebih efisien, aku benar-benar lega."

Perbedaan tugas dari sekadar ‘dalam nama’ dengan berperan secara nyata bagaikan langit dan bumi.

Saat aku mengucapkan pendapatku itu, Alex mengangguk setuju.

"Begitukah... Kebetulan sekali."

"Alex?"

Aku memanggil Alex yang melipat tangannya, dia terlihat memikirkan sesuatu.

Dia membuka matanya dan melengkungkan bibirnya, menyeringai.

"Kau juga tahu, kan? Apa kau akan ​​mengira kalau aku kembali ke Ibukota hanya karena adikku saja?"

"Aku memang merasa seperti itu......"

Orang ini, dia bahkan tidak hadir dalam Upacara Pertunangan, tapi malah langsung datang ke sini. Itu berarti memang ada alasan di balik tindakannya.

Kira-kira apa yang terjadi...?

Dari tatapannya, aku tersadar...

Meski aku meragukannya, Alex menyipitkan matanya sebagai penegasan dan perlahan berkata.

"Tidak lama lagi 'Utara' akan bergerak, kau tahu?"

"!!!"

Dari kata-kata Alex, bahkan Glenn, yang sejak tadi terdiam kini ikut terkejut.

"Secepat ini?"

"Margrave Shallum sudah selesai dengan persiapannya. Kemungkinan laporan mengenai izin untuk bergerak akan tiba dalam beberapa hari."

Jika dia mengatakan bahwa Margrave Shallum yang melindungi perbatasan Utara sudah mulai bergerak, maka itu pasti benar.

Glen mengerutkan kening pada kata-kata Alex.

"Tahun demi tahun, mereka tidak pernah belajar......"

"Mereka pasti merasa putus asa juga...... Musim dingin di sana terlalu parah."

Sambil mendengarkan percakapan mereka, aku menganalisis perkembangan situasi selanjutnya.

Di bagian utara negara kami terdapat suku nomaden, 'Tarim'.

Setiap tahun selama musim dingin, bangsa ini akan mulai bergerak maju menuju Selatan. Tujuan mereka, tentu saja, adalah melakukan invasi ke negara ini. Untuk menjauhkan diri dari tanah utara yang keras untuk setidaknya beberapa saat, mereka menyerang negara yang diberkati akan iklimnya.

Namun begitu mereka musim dingin usai menarik diri, maka kami juga tidak akan bertindak lebih jauh dan membiarkan mereka mundur. Hal itu tidak terlalu membebani. Tetapi, tahun ini, mereka bergerak lebih awal.

Jumlah tentara yang dapat dikerahkan dan strategi yang dapat meminimalkan kerusakan yang akan kami terima, mulai terpikirkan di kepalaku.

Ekspresi wajahku menjadi tegang.

"Apa kau sudah melaporkan ini ke Ayahanda?"

Saat aku berkata begitu, Alex, yang sedang berbicara dengan Glenn, berbalik ke arahku dan dengan ringan mengangguk.

"Tentu saja. Akan lebih baik bagimu untuk ikut bersiap...... Kau akan ambil bagian, kan?"

"Jika komandan tidak hadir, itu tidak akan pernah dimulai. Tentu saja aku akan turun tangan."

Saat aku memberikan penegasan, Alex tersenyum lebar.

"Tunjukkan wajah itu pada Lidi. Di adalah gadis yang aneh. Dia memiliki sisi yang lemah pada pria yang seperti itu. Mungkin hal itulah yang membuatnya terjerat olehmu."

"......"

Kemudian aku teringat dengan pandangan yang Lidi berikan padaku saat aku memakai seragamku kemarin.

Meski tindakannya (Lidi) yang konyol dan matanya yang menuntut lebih. Itu membuatku ‘bersemangat’.

Melihat ekspresiku, Alex dengan kecewa bergumam, 'mengecewakan sekali'.

"Dari wajahmu, sepertinya kau sudah mengetahuinya. Kupikir ini akan menjadi kesempatan besar agar kau merasa berterima kasih kepadaku. Yah, itu tidak masalah. Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Aku juga akan menyampaikan informasi ini kepada Will."

"Emm... Baiklah."

Sebagai Kepala Divisi Sihir, Will juga harus tahu tentang masalah ini.

Dia harus diberi tahu karena untuk menuju ke arah wilayah Margrave Shallum dan menghadapi pasukan dari Utara, Gerbang Transfer yang berada di bawah kendali Divisi Sihir diperlukan.

"Sampai jumpa, Freed, Glenn."

Aku berkata kepada Alex yang meninggalkan ruangan sambil melambaikan tangannya.

"Segera kembali, kembalilah ke Ibukota dengan cepat."

Tanpa Alex, banyak hal yang menjadi tertunda.

"Sebentar lagi. Ah... Freed. Jangan sampai kau membuat Lidi menangis."

Dengan pintu yang tetap terbuka, Alex berbalik dan tertawa.

"Kecuali di tempat tidur, aku tidak berencana membuatnya menangis."

"......Kau. Berani-beraninya kau mengatakan hal seperti itu di hadapanku."

T/N : Again, Alex ngomong ‘kau’ pake ‘temee’ / て め え. Hahaha

"Aku tidak masalah untuk mengatakannya berulang kali. Itu karena aku serius dengannya. Aku tidak punya niat untuk membuatnya menangis."

Dengan tatapan serius, Alex mengangkat bahunya seolah menyerah. Dia mengangkat tangannya dan berkata, ‘Aku pergi’ lalu akhirnya dia benar-benar pergi.

***

Setelah aku menyelesaikan tugas0tugasku, hari sudah malam.

Pada akhirnya, aku tidak bisa pergi menemui Lidi, apalagi mengundangnya keluar untuk makan bersama.

Aku bertanya-tanya apa yang dia lakukan untuk menghabiskan waktu.

Sambil memikirkan apakah dia sudah bisa bergerak, aku berjalan ke kamar pribadiku dengan langkah cepat.

Aku ingin segera melihatnya. Melihatnya, memegangnya dengan erat, dan menikmati tubuh lembutnya lagi.

Tanpa sadar tubuhku kembali memanas hanya karena mengingat kejadian kemarin. Aku menjadi tidak sabar.

Saat aku sampai di kamar, orang yang ada di sana bukanlah wanita yang kucintai, tetapi hanya Kepala Pelayan Wanita seorang.

"Di mana Lidi?"

Melihat tempat tidur yang sudah rapi, aku mengajukan pertanyaan kepada Clara.

Clara menurunkan pandangannya, meminta maaf.

Apa yang kuharapkan untuk dilihat adalah dia (Lidi) yang menatapku dengan mata kesal yang imut.

Kemudian aku akan menenangkannya, membisikkan cintaku padanya, dan akhirnya tenggelam ke tempat tidur bersama. Itulah yang kupikirkan.

Tapi ruangan ini kosong, seperti biasanya. Aku berpikir bahwa ada alasan kenapa Lidi tidak ada di sini, tapi aku tidak bisa menerimanya

Saat aku bertanya, Clara terus menundukkan kepalanya.

"Saya benar-benar minta maaf. Putri telah pulang ke kediamannya."

"......Pulang?"

Jawaban yang sulit dipercaya keluar dari mulut Clara. Aku menggelengkan kepala, tidak percaya.

"Padahal aku sudah membuatnya kelelahan sampai seperti itu? Tapi, dia masih bisa bergerak, apa yang terjadi?"

"Itu......"

Setelah Clara melaporkan apa yang terjadi sejak aku meninggalkan ruangan, aku jadi kehilangan kata-kata.

Dia melarikan diri begitu kita mengalihkan pandangan darinya, seperti itu?

Mustahil... Tetapi, aku malah tertawa dengan kelakuannya ini.

"Haha...... Hahahahahahaaa."

"Putra Mahkota?"

Clara pasti tidak menyangka aku akan tertawa seperti ini.

Meskipun Clara menatapku kebingungan, itu tidak masalah bagiku.

......Benar-benar. Dia melarikan diri lagi.

Ini adalah hal yang tidak terduga, aku merasa kagum. Lagi-lagi aku tertawa.

Aaahhh... Kau benar-benar tidak pernah belajar dengan pengalaman, Lidi.

"Ya, seperti yang diharapkan dari Lidiku. Dia bahkan bisa lari dariku lagi untuk kedua kalinya. Lari dariku... Baiklah."

Itu sangat menghibur.

Alih-alih merasa tersinggung dengan kelakuannya yang kembali melarikan diri driku, aku malah terus tertawa.

Dia, dia selalu saja mengejutkanku secara berturut-turut.

Aahhh... Seperti yang kupikirkan, aku menginginkan tubuhnya, hatinya, dan segalanya darinya.

Aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan tertarik dengan wanita sepertinya.

Awalnya, aku hanya ingin tahu lebih tentangnya, tapi aku justru terjebak lebih jauh pada dirinya.

"Saya sangat minta maaf. Karena kelalaian saya, Putri......"

Aku menggelengkan kepalaku pada Clara, yang terus meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Aku tidak punya niat untuk menyalahkannya.

"Itu bukan kesalahanmu. Aku yang tidak mengatakannya, Lidi adalah wanita yang seperti itu. Kau tidak akan tahu apa yang akan dilakukannya saat kau melepaskan pandanganmu darinya. Aku yang salah karena berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja."

"......Putra Mahkota."

Aku meyakinkan Clara, yang menunjukkan wajah ragu, dan mengatakan kepadanya bahwa aku tidak keberatan. Kemudian aku teringat dengan kejadian semalam...

"Hmm... Singkatnya, Lidi tidak merasa puas, kan? Padahal aku sudah ‘melakukannya’ berkali-kali... Meski begitu... Itu masih belum cukup, ya...... Hmmm..."

Dia (Lidi) bisa meninggalkan ruangan ini setelah ‘melalui semua itu’, tampaknya dia masih memiliki kekuatan yang tersisa.

Padahal pagi tadi, dia mengeluh tentang rasa sakit di pinggulnya dan tidak bisa bergerak. Aku tidak merasa kalau dia berbohong, mungkinkah dia bisa pulih dengan sangat cepat......

Kalau dia bisa pulang dengan penuh energi, maka lain kali aku akan tidur lebih lama lagi dengannya.

Meskipun aku sudah menahan diri, karena dia menangis dan memohon. Tampaknya, hal itu tidak diperlukan lagi.

......Aku sudah memutuskan. Lain kali saat aku tidur dengannya, aku tidak akan berhenti sampai aku benar-benar puas.

Aku tidak akan menyerah bahkan jika dia menangis dan memohon padaku.

Aku ingin dia bertanggung jawab dan menemaniku sampai akhir. Saat aku berpikir seperti itu, sudut bibirku terangkat.

Lalu, aku meminta Clara untuk menjelaskan apa yang terjadi secara detail.

Bagaimana caranya Lidi pulang dari sini? Aku penasaran.

Tetapi, saat nama Will dan kerja samanya dalam pelarian Lidi keluar dari mulut Clara, aku tidak mempercayai telingaku.

"Will? Maksudmu, Will mengirim Lidi pulang?"

"Benar. William-sama sendiri yang mengatakannya pada saya. Setelah itu, Kediaman Duke Vivouare mengirim surat yang ditulis oleh Duchess yang menyatakan bahwa Putri Mahkota telah pulang. Surat itu juga berisikan permintaan maaf atas nama Putri Mahkota, yang pulang tanpa mengatakan apa pun."

"Aku mengerti......"

"Saya berpikir untuk segera memberi tahu Anda soal ini, tetapi Anda terlihat sangat sibuk."

"Aku mengerti. Terima kasih atas kerja kerasmu."

Karena masalah dengan ‘Utara’ telah terjadi, aku jadi tidak bisa dihubungi karena saking sibuknya.

T/N : Maksudnya, Clara ga bisa ngehubungin Freed lewat sihir telepati karena Freed sibuk kerja.

Selama Lidi pulang dengan selamat, maka tidak apa-apa.

Aku bisa bertemu dengannya besok.

Tapi......

"Kenapa Will tiba di saat seperti itu......?"

Aku menggenggam rambutku, merasa sedikit kesal.

Aku tidak terima.

Siang tadi, aku baru saja mendengar kabar tidak menyenangkan dari Alex.

Hanya dengan membayangkan hal yang tidak biasa antara mereka berdua (Will dan Lidi) membuatku marah karena iri.

Perasaan Will yang tidak terbalas dan Lidi yang menjadi Putri Mahkotaku. Aku memang mengerti.

Tapi ini (Amarah Freed) juga bukanlah sesuatu yang logis.

Aku percaya kepada Will. Kami sudah saling mengenal sejak kecil, dan berbeda dengan Alex, dia adalah orang yang sopan dan bertanggung jawab, benar-benar seorang penyihir yang luar biasa.

Meski dia memiliki lidah yang tajam, aku tidak percaya dia akan melakukan sesuatu terhadap tunanganku.

Ya... Di kepalaku, aku sudah mengerti.

Namun, aku tidak memiliki keyakinan, aku bisa tetap tenang saat aku melihat wajah Will.

"......Seperti yang kuduga, aku tidak ingin melihat wajah Will untuk sementara waktu."

Kalau aku melakukannya, mungkin aku akan melampiaskan kemarahanku ini kepadanya.

Aku butuh waktu untuk menenangkan amarahku.

Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menyuruh Clara untuk keluar dari sini. Clara pun segera melakukan apa yang kuperintahkan.

Aaahhh... Aku harus tidur untuk hari ini.

Aku merangkak ke tempat tidur yang dingin sendirian.

Tempat tidur yang tertata rapi ini sudah tidak memiliki sisa aroma Lidi. Satu-satunya aroma di sini hanyalah aroma pelembut kain.

"Lidi......"

Meskipun dia ada di pelukanku pagi ini.

Meskipun lidah kami terjalin dan aku menikmati diriku di bagian terdalamnya berkali-kali.

Seharusnya semua ini akan terasa sama seperti biasanya, tapi kini aku justru merasa hampa di tempat tidurku yang luas ini.

Tanpa Lidi, aku tidak bisa tertidur dengan tenang.

Seharusnya, saat ini aku sedang ‘memeluk’ kekasihku dan terbenam di dalam dirinya yang manis.

Membuatnya meleleh dan melekatkan diri kami satu sama lain.

Aku bertanya-tanya apakah Lidi, yang melarikan diri tanpa merasa gentar, kini tertawa puas.

Ataukah dia juga merasakan kesepian seperti yang kurasakan saat ini?

Meski tidak tidur sedikit pun semalam, rasa kantukku tidak muncul.

Aku ingin segera tertidur, tapi tidak berhasil. Aku tetap terjaga.

Aku ingin pagi segera datang. Aku ingin segera melihatnya.

Apa yang harus kulakukan untuk menghentikannya melarikan diri?

Haruskah saya mengurungnya? Atau haruskah aku membisikkan cintaku yang sepenuh hati padanya?

Sebagai seseorang yang sudah mencobanya, aku tidak bisa memikirkan rencana alternatif.

Aku bahkan berpikir untuk menyingkirkan rasa Maluku dengan menangis dan memohon padanya.

Jika itu akan membuatnya tetap di sini, maka dengan senang hati aku akan melakukannya.

Aku terus menerus berganti posisi saat berbaring sambil memikirkan semua itu.

Karena aku tetap tidak bisa tidur, akhirnya aku menyerah dan memilih untuk duduk.

Itu tidak bisa membantu. Kurasa aku akan membuat rencana revisi anggaran untuk amandemen yang diusulkan sampai pagi datang.

Saat aku berpikir begitu, dan berdiri untuk memakai baju kerja dan akan berjalan keluar kamar.

Pada saat itulah...

Suara seperti sirene yang menusuk telinga terdengar di seluruh penjuru Istana.

Itu adalah sinyal yang menginformasikan keadaan darurat. Perasaan tegang muncul pada diriku.

Aku berdiri diam, berusaha mendengarkan setiap isi yang mereka laporkan.

Ketika sirene yang panjang berhenti bergema, beberapa detik keheningan meresap. Setelah itu, kata-kata yang ditakuti pun diumumkan.

"Pergerakan Tarim sudah dikonfirmasi!! Bala bantuan yang mendesak harus dikirim!! Semua Pemimpin harus berkumpul di aula sesegera mungkin!!"

Peringatan itu membuat ekspresiku menjadi kaku.

Meski aku sudah mendengarnya dari Alex, tetap saja aku terkejut karena tindakan Tarim ini terlalu cepat.

Ketika pemberitahuan untuk segera berkumpul di aula diucapkan, pikiranku segera memproses.

Clara yang berada di luar kamarku sudah mengatur persiapan, aku pun meninggalkan kamar dengan tergesa-gesa.


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?