Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 37.2 - Kekhawatiran Abadi Kepala Pelayan Wanita 3


[POV Clara]


"Ini, Lidi."

Gigit.

......Aku mengalihkan pandanganku dari tindakan mesra mereka berdua.

***

Ternyata wanita yang dibawa oleh Putra Mahkota adalah Putri Mahkota.

Aku merasa lega dengan kenyataan itu, tidak lama kemudian wajahku berkedut saat melihat wajah Putra Mahkota yang tampak manis.

Dengan telaten, Putra Mahkota terus menyuapi Putri Mahkota.

Dan Putri Mahkota menerimanya begitu saja.

Rasanya aku ingin segera pergi dari kamar yang penuh dengan kemesraan yang membuatku berdebar-debar ini.

Pelayan biasa memang bisa meninggalkan tempat ini saat melihat tuannya sedang bermesraan, tetapi tidak denganku.

Terlebih, ini adalah pertama kalinya aku melihat Putra Mahkota yang seperti ini.

Sikap Putra Mahkota seakan-akan mengatakan ‘Kau sangat manis, aku tidak bisa menahannya’ dan ia terus menyentuh tubuh Putri di mana-mana.

Tampaknya mereka sudah melupakan keberadaanku.

Putra Mahkota memandang Sang Putri dengan pandangan yang terpesona.

Aku tidak bisa mengatakan atau pun melakukan apapun di sini.

Aku hanya bisa bersabar.

Alasan kenapa aku bisa mengendalikan ekspresiku di situasi seperti ini adalah karena aku sudah menjadi Kepala Pelayan Wanita selama bertahun-tahun.

Aku memuji diriku sendiri karena bisa tahan dengan situasi ini.

Karena aku harus melakukan tugas resmiku, dengan enggan, aku berniat untuk pergi. Tetapi, Putra Mahkota memberi pandangan yang penuh arti kepadaku.

Kemungkinan besar beliau bermaksud untuk terus membiarkan Putri tetap berada di sini.

Aku menganggukkan kepalaku, menyembunyikan keterkejutanku. Mengingat kemarin Putra Mahkota telah ‘memeluk’ Putri seharian, kurasa seharusnya Putri tidak bisa bergerak untuk saat ini.

Dengan kasih sayang sebesar ini...... Maka Putra Mahkota tidak perlu lagi untuk datang ke Pesta Malam.

Beliau sudah menjadi orang yang penuh kasih sayang dan tidak bisa melihat apapun kecuali Putri. Aku sangat berterima kasih kepada Putri Mahkota, karena dengan begini, Putra Mahkota tidak perlu menghadiri Pesta Malam lagi.

Karena ia (Lidi) akan selalu berada di sisi Putra Mahkota, jadi aku harus terus melindunginya dari berbagai macam bahaya.

Saat Putra Mahkota melihatku mengganggukan kepala, akhirnya beliau meninggalkan kamar dengan ekspresi lega.

Aku tidak boleh menghancurkan kepercayaan Putra Mahkota.

Samapi Putra Mahkota kembali, aku harus menjaga Putri Mahkota dan memastikan dia tetap berada di sini.

Tak lama setelah Putra Mahkota pergi, Putri meminta untuk dibawakan pakaian. Aku langsung menyiapkan gaun untuknya.

Saat ia meminta gaun yang mudah untuk dipakai, refleks aku langsung memilih gaun yang disukai ibunya, Rosina.

Saat dia (Lidi) membuat para pelayan mengganti pakaiannya, penampilannya terlihat sangat mirip dengan Rosina.

Dari ekspresinya (Lidi) yang sayu, tanpa disengaja, penampilan Rosina muda muncul di pikiranku.

Saat dia mengucapkan kata-kata bujuk rayu yang penuh dengan simpati agar aku meninggalkannya sendirian. Aku teringat dengan Rosina sebelum ia menikah, dan aku pun tidak bisa menolak permintaannya. Pada akhirnya, aku meninggalkan ruangan dan berjanji untuk kembali pada siang hari.

Meskipun aku khawatir, setidaknya ada Pengawal Istana  yang berdiri di depan pintu. Aku meminta mereka untuk segera memberitahuku jika terjadi sesuatu. Setelah itu, aku pergi dan menjalankan tugasku.

***

Saat siang hari, aku kembali ke kamar pribadi Putra Mahkota untuk memeriksa Putri. Tapi... Yang bisa kulakukan hanyalah tercengang saat melihat ruangan yang kosong ini.

Putri Mahkota tidak ada di sini.

Pengawal Istana hanya berkata bahwa tidak ada yang aneh dan tidak tahu ke mana Putri pergi.

Bagaimanapun, aku harus mencarinya.

Penculikan tidak akan mungkin terjadi di Istana Dalam, tetapi, hal itu juga tidak terjamin.

Kalau hal itu sampai terjadi, maka aku tidak punya muka atau pun hak lagi untuk melihat Putra Mahkota dan Rosina.

Hanya dengan memikirkannya saja wajahku langsung memucat. Aku langsung berjalan menuju ke arah area umum.

"Kepala Pelayan, Nona Grimm."

Saat ada yang memanggilku, refleks aku menoleh ke arahnya dengan kebingungan.

Ternyata yang memanggilku adalah William-sama.

***

Aku lega saat mendengar bahwa Putri Mahkota sudah pulang, syukurlah hal-hal buruk tidak terjadi.

Tetapi... Mendengarnya pulang ke kediamannya hampir membuatku pingsan.

......Bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada Putra Mahkota.

Aku menahan diriku dari pingsan oleh kemauan keras sebelum mengungkapkan rasa terima kasihku kepada William-sama dan segera pergi dari sana.

Aku berpikir untuk segera melaporkan hal ini kepada Putra Mahkota, tapi, saat ini Putra Mahkota pasti sedang sibuk. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke kamar pribadi beliau untuk menunggunya di dekat pintu.

Saat aku menunggu, ada sebuah surat yang ditujukan kepadaku.

Aku pun segera menerimanya.

Saat aku mengambil surat itu, di situ tertulis bahwa pengirimnya adalah Rosina von Vivouare.

―――Itu dia.

Meski sudah 20 tahun berlalu, aku tidak pernah bisa melupakan tulisan tangannya.

Berulang kali aku memeriksa nama pengirinya, aku membuka surat itu dengan tangan yang bergetar.

Tulisan tangan yang indah... Surat ini berisi mengenai permintaan maafnya atas nama putrinya yang pulang tanpa pemberitahuan.

......Aaahhhh... Tidak salah lagi... Ini memang benar dia (Rosina).

Aku memeluk surat itu ke dadaku.

Air mataku mulai mengalir deras.

Sebenarnya, ini selalu ada di pikiranku.

Saya tidak bisa menerima kalau dia menikah dengan orang itu dan secara sepihak, aku memutuskan komunikasi dengannya. Tapi... Aku selalu menyesali hal itu.

Aku mengingat perpisahan terakhir kami.

‘Kalau kau menikahi pria itu, aku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu.’

Itulah yang kukatakan kepadanya, dan dia menunjukkan ekspresi kesedihan kepadaku.

Aku yakin bahwa dengan berkata seperti itu maka dia akan menyerah. Tapi ternyata itu salah... Dia menggelengkan kepalanya dan beranjak pergi.

Sekarang aku mengerti... Bahwa aku sudah melakukan hal yang bodoh waktu itu.

Sejak saat itu, aku terus menyesali masa lalu.

Meski begitu, aku tidak bisa memberanikan diriku untuk menemuinya. Dan tanpa sadar, kini sudah 20 tahun berlalu.

Aku bertanya-tanya, apakah dia akan memaafkanku?

Di kalimat terakhir surat ini tertulis....

‘Aku berharap kita bisa bertemu lagi.’

Aku ingin tahu, apakah dia juga memikirkan hal yang sama denganku?

Aku ingin percaya...

Sambil memegang surat itu dengan erat, aku terus berdiri diam di tempat.

Meski begitu, aku seharusnya tidak hanya memikirkan Rosina.

......Masalah yang paling penting sekarang adalah... Bagaimana aku harus melaporkan tentang Putri Mahkota kepada Putra Mahkota?


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?