Penerjemah : reireiss 

Source ENG : Jingle Translations 

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup. 

Terima kasih~ 


Chapter 19 - Lamaran Pernikahannya



[POV Freed] 

"Harap tunggu sebentar, saya akan memanggil putri saya."

Setelah mengatakannya, Perdana Menteri memasuki rumahnya.

Aku mendengar suara Perdana Menteri memanggil sebuah nama.

"Lidi! Lidi!!"

Tampaknya Perdana Menteri memanggil nama panggilannya. Sudah kuputuskan, aku juga akan memanggilnya seperti itu.

Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya, jadi aku mengikuti Perdana Menteri.

Ketika para pelayan melihatku, satu per satu mereka menundukkan kepala, memberiku salam.

Kurasa mereka sudah mendengar mengenai kedatanganku dari Perdana Menteri. Para pelayan Kediaman Duke memang terlatih dengan baik.

Saat aku memasuki aula, aku melihat sekeliling.

Aku terus mengikuti langkah Perdana Menteri.

Dan kemudian, tiba-tiba aku merasakan sebuah tatapan, tentu saja aku balik menatap orang itu.

———Aahhh... Itu dia.

Mata kami bertemu, saling menatap satu sama lain.

Matanya yang berwarna ungu itu melebar, keterkejutan dan ketidakpercayaan tertulis di wajahnya.

Saat aku melihat penampilannya, rasa cinta memuncak di dalam diriku.

Mulutku mengendur karena sukacita.

Hatiku puas saat aku melihatnya tanpa topeng.

Semalam, saat aku melepaskan topengnya, wajahnya yang sangat cantik itu telah mencuri hatiku.

Aahhh... Aku ingin memeluknya dengan erat saat ini juga.

Perdana Menteri menjelaskan padanya mengenai kedatanganku, tapi aku tak begitu memerhatikan apa yang dikatakan oleh Perdana Menteri.

Aku benar-benar terpikat hanya dengan menatapnya saja.

"....Yang Mulia Putra Mahkota?"

Suaranya menyadarkanku. Aku senang dia mengajakku bicara, tapi alisku mengerut karena dia memanggil gelarku.

Sangat tidak romantis, aku kecewa.

Siapa pun bisa memanggilku dengan gelarku, tapi aku ingin dia memanggil namaku.

Aku sangat mengharapkan hal itu.

Dengan suara yang lembut dan manis, aku hanya ingin gadisku ini memanggil namaku [Freed].

Aku tidak bisa menunggu lagi, aku harus segera bertindak.

Aku berjalan ke arahnya, berlutut di hadapannya, dan mencium tangannya tanpa ragu.

"Salam untuk Putri Tercinta. Namaku Frederick van de la Wilhelm. Bisa bertunangan denganmu, benar-benar membuatku bahagia. Jadi aku berpikir untuk melihat wajahmu, setidaknya sekali. Hari ini aku datang tanpa mengirim pemberitahuan sebelumnya, aku jadi bertanya-tanya, apakah itu merepotkanmu?"

Aahhh... Akhirnya aku bisa melakukan ini.

Setelah aku memberinya lamaran, senyum puas melayang di wajahku.

Kami sudah bertunangan, aku tidak paham kenapa dia tidak menyukai pertunangan ini.

Untuk mengerti tentang niatnya, aku merasa aku harus melamarnya di hadapan Perdana Menteri seperti ini.

Bahkan, di sudut penglihatanku, Perdana Menteri menyaksikan keseriusanku dan dia tersentuh.

Perdana Menteri mungkin tidak pernah berpikir bahwa aku akan melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Aku memandangnya (Lidi), kelihatannya dia sangat terkejut, dia tak bergerak sedikit pun.

Aku pun mendesak Perdana Menteri untuk memanggil putrinya yang terdiam.

Di bawah desakan ayahnya, terlihat, dia menjawab lamaranku dengan enggan.

"…Putra Mahkota bilang 'merepotkan'?. Tentu saja, tidak. Justru ini merupakan kehormatan besar. Nama saya Lidiana von Vivouare."

Perdana Menteri, aku berterima kasih atas kerja samamu!!

Meskipun dia enggan, tapi dengan ini dia sudah menerima lamaranku, aku sangat bahagia.

Aku masih memegang tangannya yang enggan ini, dan kembali mencium punggung tangannya yang halus.

Dengan ini pertunangan ini telah resmi, tinggal menunggu pesta pertunangan saja——– !!

Kebahagiaan tertulis di wajahku, aku pun memberi tahu tentang keinginanku.

"Terima kasih. Panggil saja aku Freed, Putri Lidiana. Boleh aku memanggilmu Lidi?"

"Ya, silakan lakukan saja sesuai keinginan Anda."

Dari caranya memanggil namaku, aku menjadi meleleh saking senangnya.

Selain itu, meskipun, aku tahu bahwa dia merasa enggan denganku, tapi aku menganggap sikapnya itu sangat manis, akibatnya senyum terus muncul di wajahku.

Setidaknya, aku mendapat hak untuk memanggilnya dengan nama panggilannya, ‘Lidi’.

Karena itu, meski dia merasa enggan padaku, aku tidak merasa keberatan.

"Apakah kau malu? Lidi yang cantik. Untuk sekarang tak masalah, tapi nanti, tolong panggil aku ‘Freed’ dengan suara imutmu, oke?"

Aku tersenyum padanya sekali lagi, dia gemetaran, aku berkata kepada Perdana Menteri.

"Perdana Menteri, aku ingin berbicara dengan Lidi sendirian. Apakah boleh?"

Di hadapanku, Lidi bereaksi keras terhadap kata-kataku, Perdana Menteri memandangku, kemudian mengangguk.

Karena baru saja aku melamar putrinya, tampaknya kepercayaan Perdana Menteri kepadaku menjadi meningkat.

Dan seperti yang kuduga, Perdana Menteri langsung menyetujui permintaanku.

"Tentu saja! Anda ingin berbicara di mana? Bagaimana kalau di ruangan untuk tamu, saya yakin Putra Mahkota tak akan kecewa."

"Aku ingin melihat kamar Lidi."

Terkejut karena semuanya terjadi secara tiba-tiba, Lidi terdiam, tapi pada akhirnya Perdana Menteri menyerahkan Lidi kepadaku.

Aku bersyukur Perdana Menteri mau membantuku...

Tanpa bantuan dari Perdana Menteri, kurasa mustahil semua ini terjadi.

"Begitukah? Kalau begitu, seperti yang Putra Mahkota inginkan…. Lidi, pastikan untuk tetap sopan kepada Putra Mahkota."

"…Ya, Ayah."

Saat dia merasa sedih karena Perdana Menteri memintanya untuk menemaniku, seketika tawa memenuhi hatiku.

Kemudian Lidi memanduku ke kamarnya dengan enggan, aku terus mengikutinya.

Aku mendengar desahan kecil darinya.

Melihat kondisinya, aku memutuskan untuk berbicara,

"Menghela nafas seperti itu, apakah ada yang salah, Lidi? Ekspresi sedih seperti itu tidak cocok dengan wajah cantikmu. Tersenyumlah."

"Putra Mahkota…"

Lidi menatapku dengan wajah yang rumit, lalu dia menggelengkan kepalanya seolah mengatakan, "Bukan apa-apa."

....Padahal belum lama kita bertemu, bahkan kita juga menghabiskan malam bersama, tapi sepertinya dia tidak menyadariku sama sekali.

Tapi, aku sendiri tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya, aku hanya bisa membaca reaksi wajahnya, aku merasa terkesan dengannya yang belum menyadariku.

Meski warna rambutku berbeda, suaraku kan tidak berubah.

Hahh... Ada rasa kecewa pada diriku, padahal kita telah menghabiskan waktu dan mengobrol bersama untuk waktu yang lama. Jadi aku berharap dia akan menyadariku, tapi ternyata dia tidak menyadarinya.

Mungkin alasan kenapa dia tidak mengenaliku adalah karena dia tidak tertarik padaku, aku pun terus terdiam, aku hanya mengikuti sosoknya dari belakang.

***

Saat dia membawaku ke dalam kamarnya, dia membiarkan pintu terbuka sedikit sesuai dengan aturan norma perilaku.

Aku tidak percaya... Apa dia tidak menyadari tindakannya?

Meskipun kita bertunangan, seharusnya dia tetap mempertimbangkan hal ini, meski tidak sepenuhnya tertutup dan masih sesuai dengan aturan tapi tetap saja seharusnya dia membuka lebar pintu itu bukan malah sedikit menutupnya.

Semakin kuperhatikan, aku menjadi semakin yakin, Lidi pasti tidak diajari “Etika Pria dan Wanita”.

"Ini kamar saya. Meski tidak ada sesuatu yang sangat menarik di sini…"

Kamarnya terdiri dari 2 kamar yang bersebelahan.

Dia mengajakku untuk  mengelilingi kamarnya, ada ruang tamu, dan kamar tidurnya ada di bagian terdalam ruangan.

Setelah berkeliling, kami duduk di sofa yang cukup besar, saling berhadapan.

Aku mengamati ruang tamunya, tampaknya semua barang yang ada di sini adalah barang baru.

"Memikirkan bahwa Lidi menghabiskan waktunya di sini, itu sangat menarik bagiku."

"…Begitukah?"

Aku mengungkapkan pikiran jujurku, tapi sepertinya dia tidak menanggapiku dengan serius.

Kurasa... Aku harus terus menarik perhatiannya.

Dia memiliki mata berwarna ungu yang menakjubkan dan rambut cokelat muda yang indah.

Aku terpesona dengan sikap dan penampilannya yang bermartabat, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari pemandangan yang menawan ini.

Aku kembali jatuh cinta kepadanya, aku juga menjadi teringat dengan ‘kegiatan’ kami semalam, ‘bagian bawahku’ tiba-tiba terasa panas.

Tahanlah... Kendalikan pikiranmu, Freed!!

Meski begitu, aku tetap saja menatapnya.

Mungkinkah, karena aku sangat mencintainya, hanya dengan menatapnya saja aku merasa senang.

Tapi... Kesenanganku bertahan lama.

Setelah para pelayan pergi, tiba-tiba dia berdiri dengan wajah merenung.

"Pu… Putra Mahkota!"

"Ada apa, Lidi?"

Meskipun gagap, tapi dia memanggilku... Aku menjawabnya dengan penuh senyum.

Aahhh... Ekspresi wajah yang sangat imut.

Aku ingin sekali membuatnya memanggilku Freed...

"Saya…. Saya.... Ada hal penting yang ingin saya katakan kepada Putra Mahkota!"

Aku hanya menanggapi kata-katanya dengan senyuman.

Aku bisa menebak apa yang ingin dibicarakannya. Aku membiarkannya untuk terus berbicara.

Lagi pula, kunjungan ini adalah untuk mencegah hal itu, itulah sebabnya aku datang bersama Perdana Menteri.

Wajahnya menunjukkan ekspresi yang serius, dia terlihat mengumpulkan keberaniannya, lalu membuka mulutnya.

Baginya, pasti ini adalah masalah yang sangat penting dalam seumur hidupnya.

Aku bisa merasakan keputusasaan darinya, tapi meski begitu, aku tetap tidak punya niat untuk membiarkannya pergi.

"Saya... Saya tidak bisa menikah dengan Anda!"

Meski aku sudah mengetahuinya, aku tetap tidak suka mendengar kata-kata itu.

...Maafkan aku.

Aku tidak akan membiarkannya. Jadi sebaiknya kau menyerah saja!


***

Mungkin ada beberapa dari kalian yang ingin membaca suatu novel tertentu tapi belum ada yang menerjemahkan novel tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.

Kami bisa menerjemahkan novel yang kalian inginkan tersebut melalui sistem Request Novel!

Jika kalian ingin me-request novel, silakan tulis judul atau beri tautan raw dari novel tersebut DI SINI!

***

Puas dengan hasil terjemahan kami?

Dukung SeiRei Translations dengan,


***





***

Apa pendapatmu tentang bab ini?