Chapter 51-60 : Pergi Sejauh Mungkin


Penerjemah: reireiss

Source ENG (MTL): NOVEL FULL

Dukung kami melalui Trakteer agar terjemahan ini dan kami (penerjemah) terus hidup.

Terima kasih~


DAM 51Pergi Sejauh Mungkin 1

Adegan itu menusuk matanya, lalu Yusheng memandang ke luar jendela.

Mobil menjadi tenang, hanya suara isak halus Qin Zhi’ai yang terdengar dan merasuki hati Yusheng. Dengan masih ketakutan, tiba-tiba dia menoleh ke arahnya dan menatap wanita itu, lalu berbalik dan turun darinya, duduk kembali di kursi pengemudi.

Zhi’ai masih terisak sendirian.

Gu Yusheng merasa suasana dalam mobil pengap, jadi dia mengangkat tangannya dan membuka jendela.

Angin malam musim panas terus bertiup perlahan, yang membuatnya semakin jengkel. Dia melirik gaunnya yang kusut melalui kaca spion, tapi itu tidak mengurangi rasa jengkelnya. Dia menekan tombol dengan marah, dan jendela itu ditutup lagi.

Lalu ia mengambil sebatang rokok, dan menyalakannya.

Melalui asap yang mengambang di udara, Yusheng melihat Zhia’ia masih menangis.

Karena terus menangis, bahunya berkedut ke atas dan ke bawah. Zhi’ai terus bergumam. Suaranya terlalu lembut dan Yusheng tidak terlalu memerhatikannya, jadi dia masih tidak tahu apa yang Zhi’ai gumamkan.

Gu Yusheng, dengan rokok di antara bibirnya, menatap lampu jalan terdekat sesaat, lalu sedikit menggerakkan kepalanya ke arah Qin Zhi’ai.

“Tolong, biarkan aku pergi.”

“Aku akan menjauh darimu.”

“Aku tidak akan pernah membujukmu. Kamu bisa melakukannya di mana pun kamu mau, tapi jangan di jalan.”

Setelah mendengarkan gumamannya sebentar, Gu Yusheng akhirnya mendengar beberapa kata.

Ternyata dia sedang berbicara dengannya.

Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya, tapi terlihat ada perubahan di matanya.

Apakah dia berhasil aku taklukan? Mulai sekarang, dia tidak akan pernah menggangguku lagi, kan?

Akhirnya Yusheng mencapai tujuannya, dia memadamkan rokoknya yang hampir habis, dan mulai merokok lagi. Ketika dia akan menyalakannya, dia mendengar gadis di sebelahnya tergagap, “Aku bersumpah tidak akan pernah mendesakmu, dan berjanji akan menjauhimu, sejauh yang aku bisa”

Tangan Gu Yusheng menggigil sehingga rokok mengenai ujung jarinya.

Rasa panas membuatnya sadar akan kesalahannya, lalu tiba-tiba ia kehilangan kesabaran, berteriak, “Kalau begitu pergilah! Pergi sejauh mungkin!”

Nada tinggi dan suaranya yang marah segera menyadarkan Qin Zhi’ai.

 

DAM 52Pergi Sejauh Mungkin 2

Qin Zhi’ai larut dalam penghinaan dan ketakutan, dia agak linglung saat terbangun. Karena tidak menyadari situasinya, dia menoleh dan menatap Gu Yusheng dengan bingung.

Dia sudah menangis lama sekali. Meskipun kosmetik yang ia gunakan tahan air, riasannya hancur oleh air matanya, tetapi matanya tetap secantik dan semenarik dulu, bahkan lebih cerah setelah menangis.

Dia tampak cantik dan terlihat sangat polos.

Dia tampak sangat polos sehingga Yusheng marah semakin keras. Dia melemparkan rokok ke kaca depan dengan tiba-tiba, berkata, “Aku bilang pergi! Apa kamu tidak mengerti?”

Dengan kata-katanya yang acuh tak acuh, Zhi’ai akhirnya mengerti.

Yusheng sebenarnya membiarkannya pergi dan tidak akan lagi menyentuhnya.

“Kenapa masih duduk di sini? Kamu ingin aku menyiksamu lagi?” Mendengar itu, Qin Zhi’ai sedikit gemetar, seolah-olah takut Gu Yusheng akan menerkamnya lagi, jadi dia mendorong pintu dan melompat keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.

Melihat Zhi’ai tidak sabar untuk menghilang dari pandangannya, Gu Yusheng menggertakkan giginya, berkata dengan suara dingin, “Ingat apa yang kamu katakan! Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Jangan mengacau jika kamu hanya seorang pengecut.”

Bisa dilihat Qin Zhi’ai membeku sesaat, tetapi dia tidak menanggapi, hanya menutup pintu dan melangkah ke pinggir jalan secepat mungkin.

Mobil itu melesat dengan tiba-tiba bahkan sebelum dia sampai trotoar.

***

Di kaca spion, Gu Yusheng melihat gadis itu berdiri di tepi jalan, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Gaunnya terkoyak; bagian pundaknya, di sekitar dadanya, dan di punggungnya robek.

Gu Yusheng mengerutkan kening dan menginjak rem tiba-tiba.

Dia mengambil sebatang rokok dan meletakkannya di antara bibirnya, tetapi tidak jadi dinyalakan, lalu membuka pintu dan keluar.

Dia membanting pintu dan melangkah ke arah Qin Zhi’ai, yang agak jauh.

Saat Yusheng berjalan, dia mengangkat tangannya dan membuka kancing jasnya.

Berhenti beberapa meter darinya, dia melepas jaket dan melemparkannya ke arahnya, lalu berbalik dan berjalan kembali ke mobil, pergi tanpa kata-kata.

Ketika baru saja mengambil dua langkah, dia berteriak kepadanya dengan cemas, “Gu Yusheng!”

Yusheng ragu-ragu sejenak, tetapi tidak melihat ke belakang. Saat hendak berjalan maju, sepasang tangan mendorong punggungnya dengan kencang. Dia didorong ke depan tiba-tiba.

Gu Yusheng terhuyung ke depan, lalu mendengar suara tabrakan dari belakang saat telah menstabilkan kakinya.

 

DAM 53Pergi Sejauh Mungkin 3

Gu Yusheng merasa ada yang tidak beres dan tiba-tiba melihat ke belakang, hanya untuk melihat mobil biru di tengah jalan, parkir di tempat dia didorong.

Seseorang berbaring sekitar dua meter dari bemper depan mobil.

Tidak jauh dari tangan kirinya adalah jas.

Dia terbiasa dengan jas itu, karena itu yang baru saja dia lepas dan lemparkan ke Liang Doukou.

Jadi, apakah orang yang berbaring di sana, Liang Doukou?

Liang Doukou melemparkan jas itu padanya dan berbalik. Apakah dia berteriak padanya karena ada mobil melaju ke arahnya?

Gu Yusheng mendengar teriakan Liang Doukou, “Gu Yusheng!”

Tubuh Gu Yusheng bergeming sesaat, dan dia bersandar pada lampu jalan di belakangnya dengan cahaya redup yang menyinari bagian atas kepalanya, mengaburkan wajahnya yang tampan.

Dia tetap tenang, tidak ada emosi di wajahnya, menatap jas itu tanpa berkedip.

Pengemudi mobil itu ketakutan karena kecelakaan yang baru saja terjadi, dia duduk di dalam mobil sesaat, lalu mendorong pintu dan keluar dengan panik.

Qin Zhi’ai terbaring di sana, tanpa bergerak.

Pengemudi itu tidak yakin apakah dia masih hidup. Dia sangat takut saat berjalan perlahan ke arahnya. Lalu berjongkok dan mengulurkan tangan ke hidungnya.

Sebelum pengemudi memeriksa apakah masih bernafas, Qin Zhi’ai, yang telah berbaring di tanah dengan mata tertutup, membuka matanya perlahan.

Melihatnya sudah bangun, pengemudi merasa lega, berkata, “Nona, kamu baik-baik saja?”

Qin Zhi’ai berpikir sesaat, tetapi ketika sadar, dia menggerakkan kepalanya untuk melihat sekeliling, ekspresinya santai saat melihat Gu Yusheng bersandar pada lampu jalan. Kemudian dia menatap pengemudi itu, menjawab, “Aku baik-baik saja.”

“Baiklah, baiklah! Syukurlah!” Semakin pengemudi mengingat kecelakaan itu, semakin takut, jadi dia mengulangi kata-katanya beberapa kali. Dia sepertinya ingat sesuatu yang harus dilakukan, dan mengambil ponsel dari sakunya dengan tergesa-gesa, berkata, “Aku akan segera memanggil ambulans, dan polisi”

“Tidak, tidak perlu.” Qin Zhi’ai menggerakkan tubuhnya dengan lembut. Setelah memastikan tidak ada patah tulang dan melanjutkan, “Bawa aku langsung ke rumah sakit.”

“Oh, oke,” jawab sopir itu dengan lesu, lalu setelah beberapa saat, ketika dia benar-benar memahami situasinya, dia buru-buru meraih dan membantunya bangkit.

 

DAM 54Pergi Sejauh Mungkin 4

Saat Qin Zhi’ai bangun, dia mengganggu Gu Yusheng, yang mematung di pinggir jalan.

Tatapannya perlahan bergerak dari jas ke Qin Zhi’ai.

Gaunnya semakin hancur setelah gesekan dengan aspal.

Kulit cerahnya bersimbah darah. Bahkan mengalir ke betis kirinya.

Meskipun pengemudi menolongnya, kaki kirinya pincang.

Gu Yusheng mengepalkan jari-jarinya.

Seperti di sihir, dia menatap punggungnya dan mengingat teriakannya lagi, “Gu Yusheng!”

Apakah dia bergegas mendatangiku saat meneriakkan namaku? Ketika dia mendorongku menjauh, pernahkah dia membayangkan bahwa dia membahayakan dirinya sendiri?

Dengan pikiran-pikiran ini melintas di benaknya, dia merasa dadanya tertekan. Dia berdiri, dan bergegas maju meraih lengan Qin Zhi’ai.

Saat mendekat Yusheng bisa melihat wajahnya sangat pucat. Mungkin rasa sakitnya membuat bibirnya bergetar dan keringat dingin.

Yusheng menutup bibirnya, tidak mengatakan apa-apa, lalu berjongkok dengan cepat, menggerakkan rok untuk menahan kaki kirinya.

Telapak tangannya hangat sampai Zhi’ai gemetar dan menggerakkan kakinya tanpa sadar.

Yusheng menahan lebih kencang untuk menghentikan gerakannya, lalu memandang ke samping betisnya.

Lukanya agak dalam, darah mengalir tanpa henti.

Gu Yusheng sedikit mengernyit. Detik berikutnya, ia merobek sepotong kain dari kemejanya dan mengikatnya pada luka untuk menghentikan pendarahan. Setelah itu, dia berdiri dan menggendongnya tanpa meminta izin, lalu berjalan ke mobil, membuka pintu, dan memasukkannya.

***

Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, mereka terdiam.

Setelah tiba di rumah sakit, Gu Yusheng membawa Qin Zhi’ai ke spesialis bedah otak terlebih dahulu. Saat menunggu hasil CT scan, Qin Zhi’ai, mengirim pesan ke Zhou Jing memberi tahu bahwa dia mengalami kecelakaan mobil dan berada di rumah sakit.

Setelah mengirim pesan, Qin Zhi’ai menatap telepon, menekan bibirnya lalu mengangkat kepalanya dan menatap Gu Yusheng yang berdiri tidak jauh, memandang ke luar jendela. Dia berkata, “Aku sudah mengirim pesan ke Zhou Jing, jadi dia akan tiba sebentar lagi. Jika ada keperluan lain, silakan pergi.”

 

DAM 55Pergi Sejauh Mungkin 5

Bahkan, dia sudah menunggu mengatakannya sejak Yusheng memarkir mobil di pintu masuk rumah sakit.

Ketika mereka berada di dalam mobil, dengan banyak luka di sekujur tubuhnya, rasa sakitnya semakin terasa dan dia semakin lemah. Pada saat itu, dia takut tiba-tiba pingsan, jadi dia menggertakkan giginya agar tetap sadar.

Namun, ketika keluar dari mobil, Yusheng menuntunnya, tidak ada kesempatan baginya mengatakan sesuatu. Kemudian serangkaian pemeriksaan menyusul. Sampai saat itu, dia belum punya kesempatan berbicara.

Bukan karena tidak ingin ditemani, dia memimpikan hal itu bertahun-tahun, tetapi dia tahu betul betapa Yusheng sangat benci bersamanya, karena dia menjalani kehidupan orang lain.

Zhi’ai berpikir bahwa jika bukan Yusheng yang diselamatkan, dia tidak akan rela terluka.

Terlebih lagi, tepat sebelum Yusheng membawanya ke rumah sakit, dia memintanya pergi menjauh jika harus papasan lagi.

Ya, pergi sejauh mungkin. Apakah Yusheng menganggapnya menyelamatkannya sebagai cara menggagalkannya?

Dia takut salah tafsir, jadi lebih baik menjelaskan. Kalau tidak, Zhi’ai akan selalu menjadi orang yang disiksa.

Qin Zhi’ai melihat ke bawah, dan setelah beberapa saat ragu, dia berkata dengan lembut, “Ini hanya kecelakaan. Aku tidak bermaksud mengganggumu dengan menyelamatkanmu.”

Gu Yusheng mengerutkan kening saat mendengar kalimat pertama. Apakah dia menyuruhku pergi?

Kekesalan muncul ketika Zhi’ai bergumam berulang kali bahwa dia tidak akan meminta ditemani.

Yusheng mengabaikannya dan mengeluarkan sebatang rokok, tetapi saat memasukkannya ke dalam mulut dia menyadari sedang ada di rumah sakit, karena merokok itu dilarang.

Dia menjadi semakin kesal dan mengeluarkan rokok itu dari mulutnya. Ketika dia akan mengembalikannya, dia mendengar Qin Zhi’ai, yang duduk di belakangnya, berkata sekali lagi, “Malam ini hanya kecelakaan. Aku tidak bermaksud mengganggumu dengan menyelamatkanku.”

Tangan Gu Yusheng yang sedang meletakkan rokok itu tiba-tiba membeku.

Keheningan Gu Yusheng membuat Qin Zhi’ai tidak yakin apakah dia mendengarnya, jadi dia menggigit bibirnya dan mengulangi lagi setelah jeda singkat, “Selain itu, aku akan melakukan hal yang sama jika bukan kamu.”

Sebelum dia selesai, Gu Yusheng melempar rokok ke tempat sampah terdekat.

Hancur akan menjadi kata yang lebih akurat untuk menggambarkannya.

Qin Zhi’ai tahu Yusheng kehilangan kesabaran lagi, jadi dia terlalu takut untuk berkata lagi.

Seperti yang diduga, Gu Yusheng menoleh sedetik kemudian, dan menatapnya dengan tajam, seolah-olah akan mencabik-cabiknya, berkata, “Kalau begitu, jangan ganggu aku lagi!”

 

DAM 56Pergi Sejauh Mungkin 6

Dengan muka pucat Qin Zhi’ai, dia mengepalkan tinjunya tanpa sadar, membuat lukanya semakin sakit, dan tubuhnya mulai bergetar tak terkendali.

“Jika kamu ingin menjadi penyelamatku, aku tidak punya komentar, tapi aku tidak peduli kamu menyelamatkanku.”

Tubuh Qin Zhi’ai hancur, seolah-olah akan pingsan kapan saja.

Melihat itu dari sudut matanya, Gu Yusheng menahan kata-kata kasar di ujung lidahnya tanpa berpikir.

Dia menyadari telah berhenti berbicara, suasana menjadi sangat hening.

Temperamennya buruk, dan dia sadar saat marah, kata-katanya kasar, tetapi dia baru sadar karena Zhi’ai. Jika dia menghitung apa yang dilakukan dalam mobil, akan menjadi kedua kalinya dia bersikap aneh. Kenapa dia bertingkah seperti ini?

Ketika Gu Yusheng kesal, dia akan merokok. Karena insting, dia mengangkat tangannya untuk menyentuh kantong di dadanya, dia ingat sudah membuang kotak rokok ke tempat sampah.

Dia tersihir dengan sejumlah kesalahan yang terjadi malam ini, Gu Yusheng meletakkan tangannya di pinggang, kesal, dan melihat sekeliling lalu melangkah pergi tanpa melihat ke belakang. Dia kebetulan melihat Zhou Jing melangkah keluar dari lift.

***

Untungnya, pengemudi itu menginjak rem sesaat melihat seseorang berdiri di depannya. Meskipun Qin Zhi’ai jatuh, lukanya hanya di kulit. Yang paling serius adalah betisnya yang dirawat Gu Yusheng, lalu dijahit di rumah sakit.

Sudah jam sebelas malam ketika mereka berhasil keluar dari rumah sakit. Zhou Jing mengantar Qin Zhi’ai kembali ke vila Gu Yusheng.

Ketika mobil berhenti, Qin Zhi’ai mengucapkan selamat tinggal dan hendak membuka pintu, tapi Zhou Jing tiba-tiba berteriak padanya, “Nona Qin.”

Sejak Qin Zhi’ai menyamar sebagai Liang Doukou, untuk menghindari kesalahan, Zhou Jing telah menginformasikan semua staf untuk memanggil Qin Zhi’ai “Nona Liang” atau “Xiaokou,” bahkan dalam situasi pribadi.

Tapi kali ini, dia tiba-tiba meneriakkan nama aslinya dengan sopan, yang mengejutkan Qin Zhi’ai.

Zhou Jing tersenyum sedikit dan berkata, “Nona Qin masih ingat identitas aslimu.”

Dihadapkan dengan makna yang jelas tersirat dalam kata-katanya, Qin Zhi’ai menempelkan bibirnya tanpa kata.

“Nona Qin, meskipun Anda adalah Liang Doukou di mata publik, Anda bukan dia yang sebenarnya. Ketika Xiaokou kembali, semua yang Anda miliki akan dikembalikan kepadanya, jadi saya harap Anda dapat mengingatnya.

“Jangan mengingini hal-hal yang bukan milikmu.” Setelah jeda, Zhou Wei, menambahkan, “Dalam ingatanku, tidak peduli bagaimana Xiaokou bertengkar dengan Gu Yusheng, dia tidak pernah membiarkannya masuk ke mobilnya, apalagi membawanya ke rumah sakit.”

 

DAM 57Pergi Sejauh Mungkin 7

“Selain itu, aku ingat sebelum Xiaokou pergi, dia mengatakan bahwa yang perlu Anda lakukan hanyalah menjaga hubungan baik dengan Tuan Besar Gu dan jangan berurusan dengan Gu Yusheng.”

Mendengar itu, Qin Zhi’ai akhirnya mengerti apa maksudnya.

Zhou Jing melihat Gu Yusheng di rumah sakit hari ini, jadi dia khawatir sesuatu telah terjadi antara Qin Zhi’ai dan Yusheng, yang mungkin menghalangi Liang Doukou bertindak sebagai Nyonya Gu.

“Kamu salah paham. Hari ini adalah hari ulang tahun Tuan Besar Gu, saat Gu Yusheng dan aku sedang dalam perjalanan, kami mengalami kecelakaan mobil. Aku menyelamatkannya.” Qin Zhi’ai hanya memberitahunya seadanya.

Zhou Jing mengangguk setelah beberapa saat dan menoleh untuk tersenyum pada Qin Zhi’ai, berkata, “Oke, saya hanya ingin mengingatkan  janjimu. Agar pinjaman Anda dibayar setiap bulan, Anda masih perlu dapatkan uang itu dari Xiaokou. ”

Qin Zhi’ai sangat menyadari peringatan dalam kata-katanya yang tampaknya lembut.

Jika dia ingin mendapatkan uang dari Liang Doukou, dia harus menjauh dari Gu Yusheng.

Dia mengangguk dengan tenang. “Aku tahu.”

Setelah jeda singkat, Qin Zhi’ai melanjutkan, “Jika tidak ada yang lain, aku akan pergi.”

“Oke sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.” Qin Zhi’ai menutup pintu dan berjalan ke halaman vila sebelum Zhou Jing pergi.

***

Qin Zhi’ai melangkah ke kamar tidur dengan sangat lelah dan luka sekujur tubuhnya. Karena dia tidak diizinkan mandi, dia langsung tidur setelah minum pil yang diberikan rumah sakit.

Rasa sakitnya meningkat di malam hari, jadi dia tidak bisa tidur nyenyak dan bangun beberapa kali. Setelah tengah malam, dia akhirnya tertidur lagi dan bermimpi tentang hari-hari terakhir.

Bagaimana pepatahnya?

Semakin banyak berharap, semakin Anda akan kecewa.

Itu benar! Pikir Qin Zhi’ai.

Hari di mana Gu Yusheng dan Qin Zhi’ai seharusnya menonton film bersama adalah akhir pekan, hari terpanas di musim itu.

Sudah berjanji untuk datang pada pukul tiga sore, tetapi Qin Zhi’ai berangkat pada pukul satu, waktu terpanas pada hari terpanas sejak musim panas tiba.

Ketika dia tiba di bioskop dengan bus, jam dua kurang seperempat, menyisakan satu jam lima belas menit sebelum Gu Yusheng datang.

Dia tidak diizinkan memasuki bioskop tanpa tiket, tetapi dia tidak yakin film mana yang ingin ditonton Gu Yusheng, jadi dia menunggu di tempat teduh.

Di luar sangat panas, dan dia sangat berkeringat, tetapi dia tidak merasa tidak nyaman sama sekali. Sebaliknya, ketika waktu hampir jam tiga, dia menjadi lebih bersemangat dan gugup. Ketika baru jam tiga kurang sepuluh menit, dia tersipu, berpikir bahwa dia akan melihat Gu Yusheng segera.

 

DAM 58Pergi Sejauh Mungkin 8

Dengan berlalunya waktu, harapan dan kegembiraannya bertahap berubah menjadi kecemasan dan kekhawatiran, dan akhirnya menjadi kekecewaan yang ekstrem.

Pukul tiga, dia tidak muncul, tapi dia pikir itu normal terlambat.

Pada setengah empat, dia masih belum muncul. Dia pikir mungkin Yusheng sibuk.

Pada jam empat, dia masih belum muncul. Dia pikir mungkin tiba-tiba harus berurusan dengan sesuatu.

Kemudian jam lima, jam enam, jam tujuh. Dia terus menunggu, meskipun air matanya terus mengalir. Gu Yusheng masih belum datang jam sebelas malam ketika bioskop ditutup.

Andai saja ceritanya berakhir tiba-tiba pada saat itu

Qin Zhi’ai berpikir dia bisa melupakan Gu Yusheng selama bertahun-tahun, pria yang ditaksirnya; Atau dia mungkin ingat pada suatu sore yang hangat seorang anak laki-laki yang dikaguminya saat muda dengan wajah yang paling tampan dan temperamen paling menyenangkan; Atau dia akan merasa sedih jika melihat sosok yang menyerupai Yusheng di jalan; Kemungkinan besar, dia selalu menyimpannya di hatinya sebagai episode masa mudanya dalam memulai hubungan baru dan kehidupan baru.

Sampai bertahun-tahun kemudian, Qin Zhi’ai tidak tahu bahwa cerita itu belum berakhir, tetapi dibuka saat itu.

Gu Yusheng telah melewatkan tanggalnya, dan Qin Zhi’ai mengacaukan ujian akhir kelas satu.

Masa itu sangat suram baginya.

Wu Hao belum kuliah, jadi Xu Wennuan selalu bergaul dengannya selama liburan musim panas. Setiap kali mereka pergi, Xu Wennuan akan mengajak Qin Zhi’ai, tetapi Qin Zhi’ai menolak dengan alasan yang berbeda, karena dia belum siap bertemu Gu Yusheng.

Mungkin karena perpisahan mereka yang sebentar lagi, pertengkaran sering terjadi antara Xu Wennuan dan Wu Hao. Suatu hari, Xu Wennuan menangis dan pergi ke rumah Qin Zhi’ai. Di malam hari Wennuan kelaparan, jadi dia berkata akan menghilangkan stres dengan makan makanan enak bersama Qin Zhi’ai. Dia mengajak Qin Zhi’ai ke restoran Barat.

Suatu kebetulan mereka bertemu dengan salah satu tetangga Wu Hao ketika mereka baru saja memasuki restoran dan sedang mencari meja. Tetangga itu tidak memberi mereka kesempatan untuk mengatakan sepatah kata pun, dan berteriak ke belakang, “Kakak Wu, pacarmu di sini!”

Xu Wennuan berbalik untuk pergi, tetapi Wu Hao keluar dari belakang dan menariknya kembali. Mereka berdamai satu sama lain segera setelah berbicara. Xu Wennuan menyeret Qin Zhi’ai ke belakang juga.

Ruangan itu besar, dan ada hampir tiga puluh orang yang duduk di dalam. Cahaya di ruangan itu agak redup, jadi Qin Zhi’ai tidak bisa melihat mereka dengan jelas.

Ketika dia makan setengah dari steak impor yang dipesan Wu Hao untuknya dan Xu Wennuan, dia melihat Gu Yusheng ada di antara mereka.

 

DAM 59Pergi Sejauh Mungkin 9

Dia duduk di sudut sofa dengan sebatang rokok di tangannya, api di antara jari-jarinya berkilauan.

Ruangan itu penuh gelak tawa, dia tetap tanpa emosi, seolah-olah dia tidak di dunia yang sama.

Qin Zhi’ai memegang garpu dan menusuk steik dengan kepala tertunduk. Pandangan sekilas ke arah Gu Yusheng mengingatkannya pada adegan dia berdiri di bawah terik matahari dan menunggunya selama lebih dari sepuluh jam. Matanya basah, dan dia hampir menangis.

Dia pasti berada dalam suasana hati yang sangat buruk, karena dia terus merokok dalam diam, tetapi dia tidak mengangkat kepalanya  melihat sekelilingnya, juga dia tidak tahu bahwa Zhi’ai datang.

Ketika steik hampir habis, Xu Wennuan menunjuk Gu Yusheng, berbisik kepada Wu Hao, “Apakah dia sedang kesal?”

Wu Hao minum anggur, jadi dia langsung menjawab tanpa berpikir, ” Sheng pasti dipukuli ayahnya lagi.”

“Oh kenapa?” Xu Wennuan bertanya. Qin Zhi’ai berusaha keras mendengarkan jawabannya.

“Ayahnya sudah seperti ini selama bertahun-tahun. Ketika dia sampai di rumah, dia memukuli ibunya. Dia pernah memukul kepala Sheng dengan kunci besi, sehingga berdarah” Wu Hao tiba-tiba berhenti di tengah jalan, kemudian menurunkannya suaranya, berkata, “Dia tidak suka orang mengatakan hal-hal ini tentang keluarganya. Lebih baik kau berpura-pura tidak mendengar kalau tidak dia akan marah.”

Setelah itu, Wu Hao mengganti topik pembicaraan. Qin Zhi’ai menoleh untuk melihat Gu Yusheng, kemudian semakin mencengkeram garpunya.

Anak laki-laki yang disukainya terlihat sama mulianya dengan seorang pangeran dan memiliki latar belakang mengagumkan, tetapi dia tidak menyangka ternyata Yusheng mengalami pengalaman traumatis seperti itu.

Itu adalah pertama kalinya dia merasa kasihan padanya.

Sebuah kejadian terjadi saat acara hampir selesai.

Insiden ini awalnya disebabkan oleh Jiang Qianqian dan Xu Wennuan.

Ya, sepupu Liang Doukou, Jiang Qianqian, adalah teman sekelas Wu Hao dan menyukainya selama tiga tahun, jadi dia membenci Xu Wennuan saat dia menjadi pacarnya.

Hari itu, Jiang Qianqian datang dengan saudara lelakinya yang populer di sekolah menengah, jadi dia bertingkah seperti anak manja. Dia agak mabuk, jadi ketika pesta hampir berakhir, dia mengatakan kata-kata kotor kepada Xu Wennuan. “Kamu benar-benar hebat, aku ingin merobek kemal*anmu.”

Qin Zhi’ai adalah gadis kesayangan papa yang khas, dia belum pernah mengucapkan kata-kata kotor sebelumnya, tetapi Xu Wennuan adalah sahabatnya, jadi dia membalas, “Kaulah!”

Jiang Qianqian benar-benar kesal oleh Qin Zhi’ai.

Dia menerkamnya tanpa mengatakan apa-apa.

Berkat reaksi cepat Xu Wennuan, dia menyeret Jiang Qianqian menjauh dari Qin Zhi’ai dan malah bergulat dengannya.

 

DAM 60Pergi Sejauh Mungkin 10

Tentu saja, Qin Zhi’ai tidak hanya akan berdiri; dia segera bergabung untuk membantu Xu Wennuan.

Hari itu, Qin Zhi’ai tidak mengikat rambutnya yang panjang, jadi mudah terbaca Jiang Qianqian saat dia melawan.

Qin Zhi’ai menjerit karena kesakitan. Anak-anak lelaki di situ sedang minum dan bersenang-senang, jadi mereka tidak memperhatikan apa yang sedang terjadi, tetapi mereka segera meletakkan gelas dan memisahkan ketiga gadis itu saat mendengar teriakan.

Jiang Qianqian dilindungi kakaknya dan terus mengeluh. Xu Wennuan dibatasi oleh lengan Wu Hao, menceritakan seluruh kisahnya. Hanya Qin Zhi’ai yang tidak dibela siapa pun, jadi dia hanya diam berdiri di sana.

Jiang Qianqian dan Xu Wennuan selesai berbicara pada saat yang sama, jadi saudara laki-laki Jiang Qianqian dan Wu Hao berbicara satu sama lain pada saat yang sama tanpa ragu-ragu.

“Haozi, pacarmu harus minta maaf kepada adikku!”

“Laojiang, adikmu yang minta maaf pada pacarku!”

Detik berikutnya, kakak Jiang Qianqian dan Wu Hao beradu mulut, berkata pada saat yang sama, “Tidak mungkin!”

Kali ini, mereka mengucapkan kata-kata yang sama dengan nada yang sama, tidak menyisakan ruang untuk diskusi.

Mereka adalah teman-teman yang bergaul bersama, jadi sayang jika mereka saling bermusuhan karena itu. Seseorang berdiri untuk menyelesaikan perselisihan.

Jiang Qianqian merasa kesal mereka berkelahi sendirian, jadi saat seseorang berkata akan menyelesaikannya dengan damai, Xu Wennuan tetap diam, tetapi Jiang Qianqian mengambil botol dari meja dan melemparkannya, berkata, “Jangan pernah berpikir soal itu!”

Mungkin karena Jiang Qianqian masih menyukai Wu Hao dan tidak ingin di benci olehnya, dia mengatakan sesuatu kepada kakaknya setelah dibujuk oleh mediator, kemudian kakaknya menunjuk ke arah Qin Zhi’ai, mengatakan, “Jika dia meminta maaf, ini akan berakhir. ”

Sebelum Qin Zhi’ai menanggapi, Xu Wennuan segera melepaskan lengan Wu Hao, dan berkata kepada Jiang Qianqian dengan marah, “Kamu berlebihan! Jiang Qianqian, aku bilang, ini hanya di antara kita, jangan sampai….”

Sebelum Xu Wennuan menyelesaikan kata-katanya, seseorang menggenggam pergelangan tangan Qin Zhi’ai dan menariknya ke depan Jiang Qianqian, lalu meletakkan gelas di tangannya.

Qin Zhi’ai bingung dengan tindakan tiba-tiba, menoleh dan menatap orang yang menggenggam pergelangan tangannya.

Itu Gu Yusheng! Dia tidak mengatakan sepatah kata pun hanya merokok dari tadi.

Dengan sebatang rokok di mulutnya, dia mengambil sebotol alkohol, membuka tutupnya, dan menuangkannya ke gelas yang baru saja dia masukkan ke tangan Qin Zhi’ai.


Previous | Table of Contents | Next


***

Apa pendapatmu tentang bab ini?